Home / Bisnis / BOT Pasar 16 Ilir Distop, Pedagang dan PT GTP Cekcok

BOT Pasar 16 Ilir Distop, Pedagang dan PT GTP Cekcok

 

Palembang, BP
Banyaknya laporan beberapa pedagang dan masyarakat mendorong Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) bersama dengan Perusahaan Daerah (PD) Pasar Kota Palembang melakukan inspeksi mendadak, untuk mengetahui kebenaran dari laporan sejumlah pedagang, terkait sistem built operate and transfer (BOT)  oleh pihak ketiga, PT Gandha Tahta Prima (GTP), terhadap Pasar 16 Ilir dan Pasar Kuto, Selasa (8/9).

Ketua Komisi II Fitrianti Agustinda mengatakan, pihaknya akan segera memanggil pihak PT GTP dan PD Pasar Palembang Jaya, agar Komisi II dapat segera mengeluarkan rekomendasi, apa yang harus dilakukan Pemkot Palembang.

“Beberapa laporan pedagang di Pasar 16 Ilir saat melakukan sidak sudah kami terima, tinggal kami kembali meminta keterangan dari pihak GTP.  Selanjutnya, kami akan merekomendasikan ke Pemkot Palembang, untuk status BOT antara keduanya,” kata Fitrianti didampingi Wakil Ketua Komisi Hardi.

Menurut politisi PDIP ini, ada beberapa catatan terkait sistem BOT yang dilaksanakan PT GTP terhadap dua pasar di Kota Palembang, yaitu Pasar Kuto dan Pasar 16. Karena dewan sifatnya hanya melakukan pembinaan, pihaknya akan segera merekomendasikan agar permasalahan BOT kedua pasar tidak berlarut-larut.

“Dari beberapa tinjauan langsung yang kami lakukan didampingi PD Pasar, kami sudah mendapat beberapa kesimpulan, namun belum dapat kami sebutkan keseluruhan. Kami akan lihat lagi sub kontrak, termasuk rekomendasi revisi yang akan dilakukan Pemkot Palembang,” jelasnya.

Sekretaris Komisi II DPRD Palembang Chandra Darmawan menerangkan, dalam kaitan yang akan dilaksanakan pihaknya terkait pemanggilan PT GTP adalah, mendengarkan rekomendasi yang akan dilakukan Komisi. Setelah mengumpulkan data dan kajian, tidak ada tanya jawab lagi, semua pihak akan mendengar dari Komisi. Semua akan disampaikan nantinya, termasuk bangunan-bangunan liar yang akan dibongkar di sekitar pasar, dan revisi yang akan dilalukan Pemkot Palembang.

Disinggung mengenai adakah rekomendasi yang akan diberikan Komisi II mengenai pencabutan BOT, Syahril tidak dapat memastikan hal tersebut. Menurutnya, bisa saja terjadi pemutusan kerja sama jika memang BOT tidak berjalan sesuai prosedur.

Sementara saat dikonfirmasi, penanggung jawab PT GTP, Febri, mengatakan, pihaknya sudah melakukan pengelolaan sesuai dengan prosedur dan aturan. Bahkan, beberapa pasar sudah diperbaiki.

Adanya pedagang yang tidak terima dengan pengelolaan yang dilakukan PT GTP dirinya beralasan, karena beberapa pedagang tidak terima jika PT GTP akan melakukan pendataan bagi pedagang yang memiliki kios lebih dari satu. Pedagang yang menentang adalah pedagang yang memiliki ratusan kios, dengan mendominasi di Pasar 16.

“Kami ini ingin merapikan dan menertibkan, karena ada pedagang yang mendominasi kepemilikan kios di Pasar 16. Jika semua kios diambil, kasihan dengan pedagang lain, dan yang paling penting ini untuk kenyamanan dan keamanan bagi semua pihak,” jelas dia

Direktur Utama PD Pasar Palembang Apriadi mengklaim pengerjaan yang dilakukan oleh PT GTP tidak ada koordinasi sehingga dinilai tidak ada kerja sama yang baik, ia minta pengerjaan ini dievaluasi terlebih dahulu.

Meski sempat cekcok antara pedagang dan pegawai PT GTP, hal tersebut tidak berlangsung lama, karena semua pihak menahan diri sehingga tidak terjadi keributan yang sangat tidak diharapkan.

Nina, salah satu pemilik kios di Pasar 16, merasa jika apa yang dilakukan pihak GTP tidak baik, karena ia mengklaim beberapa pedagang sering diancam. Padahal, sejak pengelolaan dilakukan PT GTP, beberapa pedagang merasa dirugikan, mulai dari pungutan retribusi dan sistem yang diterapkan PT GTP.

“Kami ini sudah lama berdagang di sini. Tapi, sejak dipegang oleh PT GTP banyak aturan-aturan yang merugikan kami, jadi wajar jika kami melapor ke Dewan,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan salah satu pedagang di lantai basement yang enggan disebutkan namanya. Saat terjadi sidak, dirinya dan beberapa pedagang sempat diintimidasi oleh oknum pegawai PT GTP, bahkan beberapa pedagang sempat ditanya nama dan berdagang di lantai berapa.

“Pengelola sekarang ini benar-benar arogan, bahkan di antara mereka adalah oknum polisi aktif. Kami yang melapor ke dewan ditanya nama dan berdagang di kios mana, seakan mengancam,” tukasnya. #jon

x

Jangan Lewatkan

Pengembang Indonesia Ramaikan Pasar Propeti di Sumsel

Palembang, BP Prospek pasar propeti di Sumatera Selatan semakin menarik. Sebab Pengembang Indonesia (PI) siap turut meramaikan pasar properti di ...