Home / Headline / Bila Terbukti Gabung ISIS, Beasiswa Desty Dicabut

Bila Terbukti Gabung ISIS, Beasiswa Desty Dicabut

2008.01.Foto Spanduk ISIS.Fer

 Inderalaya, BP

Respon keras ditunjukkan pihak Universitas Sriwijaya (Unsri), terkait kabar yang menyebutkan mahasiswi dari jalur bidik misi, Desty Anggraini (21), diduga sudah bergabung dengan organisasi Islamic State Of Iraq And Syiria (ISIS). Pihak kampus akan mencabut beasiswa mahasiswi semester tujuh Jurusan FKIP Ilmu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ini jika memang terbukti bergabung dengan ISIS.

Pembantu Rektor 3 Unsri Dr Syarif Husin mengakui Desty mengalami perubahan perilaku dari teman dan dosen pembimbingnya. Bahkan pihak Unsri mengancam beasiswa bidik misi yang selama ini diterimanya bisa dihentikan bila Desty terbukti masuk ISIS.

“Sesuai buku pedoman bidik misi, jika dia diberhentikan tidak ada biaya yang harus dikembalikan Desty. Saat ini kita berkoordinasi dengan semua pihak seperti sahabat, BEM, senat, dosen, dan kepolisian guna mencari informasi keberadaan Desty,” ucap Syarif Husin, Rabu (19/8).

Saat ini Unsri belum punya bukti soal keterlibatan Desty dengan ISIS, termasuk soal kebenaran informasi di media massa.

“Apakah pemberitaan media benar adanya. Bahwa mahasiswa kita ada gabung dengan ISIS. Informasi yang kami terima saat ini Desty mengalami masalah ekonomi dan pribadi,” ujarnya

Menurutnya, ada program pencegahan yang dilakukan pihaknya agar mahasiswa tidak terlibat masalah ISIS, antara lain dengan melakukan diskusi publik sebanyak dua kali. Kemudian, melakukan mentoring agama Islam dan program pengenalan dan pembinaan bagi mahasiswa

“Kita telah membuat aturan, semua kegiatan keorganisasian kampus harus berbasis proposal. Apabila tidak ada proposal tidak diizinkan. Kita juga akan melakukan konfirmasi pada keluarga apakah sudah melaporkan kejadian ini atau belum. Kalau sudah kita akan membantu proses pencarian Desty. Intinya kita siap bantu, semua informasi apapun akan kita terima dan akan dikoordinasikan pada pihak berwenang,” tegas Syarif.

Terkait pengawasan pihak kampus, dia mengaku sulit melakukan pemantauan kegiatan di luar kampus yang dilakukan oleh mahasiswa. Alasannya, jumlah mahasiswa yang mencapai puluhan ribu. Di sisi lain mahasiswa sering mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada di luar organisasi kampus yang notabene bukan merupakan tanggung jawab civitas akademika.

“Kita akui cukup sulit dalam melakukan pemantauan terhadap aktivitas mahasiswa di luar jam belajar. Karena, organisasi semacam itu tidak ada di lingkungan kampus,” pungkasnya.

Sementara itu, menurut tetangganya, Risno, dalam keseharian Desty merupakan pribadi yang baik dan sedikit pendiam serta memang jarang terlihat ke luar rumah.

“Anaknya baik dan murah senyum kepada tetangga, namun memang jarang terlihat ke luar rumah, paling waktu pergi ke kampus dan ketika pulang,” jelasnya

 

Ditambahkannya, sejak beberapa bulan belakangan penampilan Desty berubah, terutama dalam berpakaian, ia mengenakan cadar lengkap dengan jubah yang berwarna hitam.

“Cara berpakaian saja yang sekarang jadi menggunakan cadar dan serba hitam, kadang anak-anak yang main di sekitaran rumahnya takut melihat pakaian cadar serba hitam tersebut,” ujarnya.

Sementara itu, dari penelusuran BeritaPagi, akun Facebook milik Desty memuat gambar jihad dan bernuasa Islam. Nama akun Facebook-nya adalah UmmuSumayyah dengan nama lengkap Desti Devon Anggraini. Gambar akun Facebook Desty adalah wajah perempuan bercadar hitam yang diposting pada 24 Juli. Kemudian ada juga gambar seorang pejuang memegang sebuah bendera bertuliskan ayat Alquran.

 

Batal Melapor

Di sisi lain, orangtua Desty Anggraini batal melapor ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Sumsel, Rabu. Petugas SPKT Polda Sumsel AKP Samsurizal mengatakan, beberapa orang anggota keluarga Desty, termasuk ibunya, Nurhasanah, sempat datang ke Mapolda Sumsel untuk melapor. Kedatangan mereka langsung diterima dan ditanya perihal kasus apa yang hendak dilaporkan.

“Memang tadi siang (kemarin-red) ada keluarga yang katanya anaknya hilang dan diduga masuk ISIS itu datang ke sini,” kata Samsu.

Masih dikatakan Samsu, pada saat bersamaan masih ada beberapa warga yang juga melapor, polisi meminta keluarga Desty menunggu di kursi yang disediakan. Namun, ketika dipanggil untuk menghadap, keluarga Desty sudah pergi tanpa memberi alasan.

“Mungkin cari makan, tapi sampai sekarang tak muncul lagi,” jelasnya.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol R Djarod Padakova saat dihubungi sejumlah wartawan melalui telepon seluler (ponsel) menjelaskan, hingga saat ini pihak keluarga Desty belum melapor ke SPKT Polda Sumsel.

“Belum ada laporan terkait ISIS tersebut,” singkat Djarod.

Diberitakan sebelumnya, Desty yang diduga gabung ISIS oleh orangtuanya sempat meminta izin untuk pergi menimba ilmu agama di Pondok Pesantren Tahfidz Al-quran Anshorulloh, di Ciamis, Jawa Barat. Setelah itu, tidak diketahui lagi keberadaannya sejak 15 Agustus lalu.

Saat pergi, Desty hanya membawa tas ransel berisi pakaian dan uang saku sebesar Rp50 ribu. Sedangkan, biaya ongkos sudah ada karena dijamin oleh teman Desty yang sama-sama berangkat ke Jawa. Keluarga khawatir, Desty bergabung dengan ISIS karena di kamarnya ditemukan sejumlah kalimat tentang syahid. Desty sejak setahun terakhir memakai cadar dan berpakaian serba hitam. Bahkan, Desty juga nekat memutuskan hubungan keluarga jika disuruh melepas pakaian itu.

#hen/rio/adk/fer

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Dongkrak Harga Jual Karet Melalui Inovasi Aspal Karet

Sekayu, BP–Harga karet berfluktuatif, sangat bergantung pada kondisi pasar internasional. Untuk mendapatkan harga jual yang bagus, perlu sentuhan inovasi. Salah ...