Home / Headline / Bangun PLTS, Listrik Sumsel Terbesar di Asia

Bangun PLTS, Listrik Sumsel Terbesar di Asia

Listri Tenaga Surya (1)
Palembang, BP

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan akan segera membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) mulai tahun ini. PT Sharp Construction dibantu oleh Badan Lingkungan Hidup Jepang akan berinvestasi besar-besaran di Jepang untuk membangun pembangkit listrik ini.

 

Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Sumsel Robert Heri mengatakan, kebutuhan listrik Sumsel semakin meningkat dan harus memiliki solusi lain di luar pembangkit yang sudah ada, seperti membangun PLTS ini.

 

Akan ada dua PLTS yang dibangun di Sumsel. Pada tahap pertama adalah membangun PLTS  berkapasitas 10 MW di dekat danau Jakabaring untuk memenuhi kebutuhan listrik Jakabaring Sport City, serta PLTS berkapasitas 500 MW yang akan dibangun di sepanjang pesisir pantai timur, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI)

 

“Tahap pertama diutamakan ke JSC terlebih dahulu untuk memenuhi kebutuhan listrik menjelang Asian Games. Akan mulai dibangun 2015 ini,” tuturnya di Griya Agung, Rabu (19/8).
Pihaknya akan menyiapkan lahan seluas 20 hektar di Jakabaring untuk pembangunan PLTS tersebut. “Kita beruntung karena didukung Sharp, BLH Jepang, serta juga bantuan dari investor lokal lainnya nanti untuk membangun ini,” tambahnya.
Ia menjelaskan, seluruh listrik yang dihasilkan PLTS memang akan dimanfaatkan untuk venue dan fasilitas yang ada di JSC. Namun pihaknya pun belum mengetahui secara persis kebutuhan listrik di JSC nantinya berapa. Sehingga bila ada kelebihan energi, maka listrik akan dijual ke PT PLN untuk digunakan secara umum oleh masyarakat.
Namun Robert belum mengetahui jumlah investasi yang akan ditanamkan PT Sharp di Sumsel untuk pembangunan PLTS tersebut.  “Kita belum tahu, tapi yang pasti nilainya sangat besar,” ujarnya.

Baca:  Bangun PLTS 1,6 MW di Jakabaring

Ia menuturkan, PT Sharp sudah tiga kali datang ke Sumsel untuk membahas dan meninjau persiapan pembangunan PLTS tersebut. Ia menilai, Sumsel dipilih karena letaknya yang dekat dengan khatulistiwa, serta cuacanya yang terik bisa menghasilkan tenaga surya yang besar.

Advisor PT Sharp Contruction Richard Susilo mengatakan, pihaknya datang ke Sumsel atas permintaan dari Gubernur Sumsel yang ingin membangun PLTS seperti yang ada di Jepang.

Pihaknya akan didukung oleh Badan Lingkungan Hidup Jepang untuk memberikan kredit karbodioksida (CO2) selama 17 tahun, sebab PLTS ini dianggap lebih ramah lingkungan dan tidak menyebabkan polusi di udara, air dan tanah.
Pemerintah Jepang mempunyai kebijakan kredit Co2, dimana kredit ini meredam Co2 yang diakibatkan oleh polusi di dunia ini. Usaha-usaha yang menggunakan Co2 ini diberikan kredit melalui badan lingkungan hidup Jepang. Kita membangun PLTS ini salah satunya untuk mengurangi emisi karbon, maka dari itu kita bisa mendapatkan bantuan kredit Co2 dari Jepang ini.

Untuk struktur proyek, pihaknya akan bekerja sama dan melibatkan BLH Jepang, entitas Sharp Indonesia, juga dengan investor lokal. Pemprov Sumsel diharapkan memberi jaminan tanah, perizinan, dan persetujuan yang mudah.

Baca:  Bangun PLTS 1,6 MW di Jakabaring

“Pemerintah juga diharap mengamankan keabsahan dan persetujuan yang dibutuhkan PLN dan Pemerintah Indonesia. Kami akan memasok teknologi, investasi, pengelola EPV dan O&M untuk 20 tahun operasi. Mekanisme perimbangan CO2 dibantu oleh BLH Jepang,” ujarnya.
Pada September-Desember 2015, pihaknya akan memulai penyusunan kesepakatan kerangka kerja, kesepakatan PPA dengan PLN, dan kesepakatan sewa tanah. “Ini masih akan dibahas. Akan berjalan tahun ini juga dan kita targetkan Maret 2017 selesai supaya saat Asian Games 2018 mendatang sudah bisa digunakan,” katanya.
Gubernur Sumsel H Alex Noerdin mengatakan, pihaknya sangat senang karena investor Jepang membantu Sumsel untuk menyediakan tenaga listrik PLTS. Pihaknya akan memanfaatkan pantai timur Sumsel yang intensitas mataharinya bagus. “Insya Allah, kita akan bangun PLTS pertama dan terbaik nantinya,” ujarnya.
Sumsel akan menjadi daerah pertama di Indonesia yang memiliki PLTS bila proyek ini berjalan dengan lancar. Ia mengungkapkan, pertemuan ini adalah hasil dari ia mengikuti kunjungan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla ke Jepang beberapa waktu yang lalu. Di sana, banyak perusahaan-perusahaan besar yang kompeten dalam membuat teknologi-teknologi baru.

“Di situ saya sampaikan keinginan Pemprov Sumsel untuk memanfaatkan lahan yang ada dan yang tidak produktif selama ini dengan intensitas matahari yang cukup panas untuk dijadikan pembangkit listrik tenaga surya” tuturnya.
Saat ini, JSC memerlukan energi listrik 2,5 MW. Pada saat puncaknya nanti pada Asian Games 2018, kebutuhan listrik akan meningkat hingga 8-9 MW. Dengan perbandingan 1 MW, dihasilkan dari solar cell yang terbentang di atas lahan seluas dua hektar, maka 10 MW dihasilkan dari 20 hektar solar cell.
“Tujuan kita Green Sport City dan lebih jauh lagi yaitu Green Asian Games 2018 bisa tercapai. Ini adalah suatu lompatan besar bagi Indonesia. Pembangunan PLTS ini merupakan langkah awal dalam proyek PLTS di pesisir timur Sumsel. Sasaran kita 500 MW dan menjadi yang terbesar di Asia,” tegas Alex.
General Manager PT PLN (Persero) Wilayah S2JB Paranai Suharpan mengatakan, pihaknya akan membeli energi listrik yang dihasilkan apabila nanti PLTS tersebut sudah selesai pembangunan dan beroperasi.
Ia menjelaskan energi listrik dari PLTS biasanya lebih mahal yakni Rp20-30 per Kwh-nya. Dibandingkan dengan energi listrik yang berasal dari PLTU atau PLTA yang dijual di bawah Rp20 per Kwh. Sebab PLTS menggunakan sistem ramah lingkungan, dan investasi pembangunan dan peralatannya pun akan lebih mahal dari pembangkit lainnya.
“Hasilnya sama saja, hanya karena teknologi yang digunakan berbeda dan mahal harganya membuat energinya lebih mahal juga untuk kita beli. Kapi kita akan membeli energi itu saat beroperasi karena kebutuhan listrik terus meningkat,” tutupnya. #idz

Baca:  Bangun PLTS 1,6 MW di Jakabaring

 

x

Jangan Lewatkan

Pilgub Sumsel 2018, Posisi PDIP Dan Golkar Kuat

Palembang, BP Peneliti dari Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Kholil Pasaribu melihat pemilihan Gubernur (Pilgub) Sumatera Selatan (Sumsel) tahun ...