Home / Headline / Mahasiswi Bidik Misi Unsri Diduga Gabung ISIS

Mahasiswi Bidik Misi Unsri Diduga Gabung ISIS

Desti Angraini diduga terlibat ISIS (1)

Palembang, BP

Seorang mahasiswi Universitas Sriwijaya (Unsri) dari jalur Bidik Misi bernama Desty Anggraini diduga kuat sudah bergabung dengan organisasi terlarang Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS). Mahasiswi semester tujuh Jurusan FKIP Ilmu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ini sebelumnya meminta izin pergi menimba ilmu agama di Pondok Pesantren Tahfidz Alquran Anshorulloh, yang berada di daerah Ciamis, Jawa Barat.

Orangtua Desty, Nurhasanah, ketika dijumpai BeritaPagi di kediamannya di Jalan Sultan Muhammad Mansyur PDAM, Lorong Alir, Gang Pelita 8, RT 14 RW 05, Kelurahan Bukit Lama, Kecamatan Ilir Barat (IB) I, Palembang mengatakan, tepat pada 6 Agustus, sang anak berpamitan ke Ciamis.

“Semenjak keberangkatan sudah hampir dua pekan. Memang sebelumnya sempat diajak berkomunikasi via ponsel dan SMS. Namun dari tanggal 15 Agustus lalu sudah tidak bisa dihubungi lagi hingga sekarang. Saya takut nanti putri saya turut bergabung dengan organisasi tersebut,” ungkap Desty.

Nurhasanah juga mengungkapkan, ketakutan bahwa anaknya bergabung dengan ISIS dikarenakan anak yang berubah memakai cadar saat di rumah dan pergi kuliah.

“Sebelumnya, ketika anak saya masuk kuliah belum memakai cadar seperti sekarang. Namun pada tahun 2014 anak saya mulai berubah, bahkan dia memilih memakai cadar hitam dan pakaian hitam-hitam,” bebernya.

Kata Nurhasanah, dia sempat melarang anaknya menggunakan cadar, karena kondisi di sekitar rumah merupakan perkampungan.

“Saya tidak mau menjadi perbincangan tetangga jadi dinasihati tidak usah bercadar, namun anak saya menolak dengan tegas. Sudah sering saya nasehati namun tetap membantah. Bahkan dia menjawab lebih memilih untuk mati daripada melepas cadar. Sempat saya putuskan bila masih bercadar maka putus hubungan sebagai anak. Namun tetap saja memakai cadar, malah kucing kucingan dengan saya untuk memakai cadar tersebut,” terangnya.

Lebih lanjut Nurhasanah menjelaskan, dirinya baru tahu kalau sang anak sudah tidak lagi kuliah setelah beberapa temannya berkunjung ke rumahnya.

“Teman kampusnya datang ke rumah buat nanyain kabar Desty, soalnya mereka bilang Desty sudah tidak ikut aktivitas kampus, terutama program Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dari kampus. Dari situ saya tahu kalau Desty sudah tidak aktif ke kampus lagi,” lanjutnya.

Setelah mengetahui, kepergiannya tidak bersama teman kampus, pihak keluarga pun berusaha mencari tahu dari teman dekatnya, tetapi tidak ada yang tahu sama sekali. Pencarian pun dilakukan dengan mencari di Facebook Desti, tapi tidak ada tanda yang memberi tahu keberadaannya.

“Bahkan kami menemukan banyak kata-kata di buku hariannya mengenai mati sahid, seperti ingin mati senyum, pingsan sahid. Tambah kuat lagi, dugaan kami pada saat dosennya datang langsung ke rumah menanyakan Desty. Kata dosennya, memang Desty sekarang berubah, kalau di kampus tidak lagi rajin memegang buku tentang PAUD, tetapi sering membaca buku tentang jejak dan langkah Rasulullah. Tidak hanya itu, kami tanya dengan temannya, katanya Desty ini sudah sering mengikuti organisasi pengajian di daerah kosannya di Inderalaya,” ujarnya.

Nurhasanah yang sehari-hari mengajar ngaji keliling ini juga mengatakan, ketika Desty pergi ke dirinya hanya membawa tas ransel beserta baju dan cadar miliknya ditambah uang sebesar Rp50.000.

“Dia pergi cuma bawa uang Rp50.000. Sementara buat tiket ke sana katanya dibelikan sama temannya yang juga pergi ke sana,” tuturnya.

Untuk sekarang, Nurhasanah mengatakan dirinya beserta keluarga belum melaporkan secara resmi kepada pihak kepolisian, namun dirinya sudah meminta bantuan dari salah satu keluarga yang anggota polisi untuk coba mendaftarkan laporannya.

“Saya minta anak saya bisa kembali lagi ke sini, tidak lagi berbuat yang aneh-aneh cukup jadi dirinya yang dahulu. Soalnya dia ini harapan keluarga yang bisa kuliah dengan gratis dari pemerintah,” harapnya.

Terpisah, Kepala Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini (Paud) Unsri Inderalaya Sri Surmani membenarkan mahasiswi bernama Desty Angraini merupakan mahasiswa semester 7 Program PAUD. Kalau masalah yang sedang dihadapi Desty mengenai tidak lagi masuk kuliah apalagi tidak mengikuti PPL semuanya sudah dialihkan kepada Pembantu Dekan (PD) 3, bagian kemahasiswaan.

“Maaf saya tidak bisa berkomentar banyak, semuanya sudah saya serahkan ke pihak fakultas dalam hal ini PD 3,” ujarnya.

Saat ditanya, terkait keseharian Desty, Sri hanya berkomentar sedikit, untuk di lingkungan kampus dia anaknya sangat baik, terutama dengan prestasi serta nilainya.

“Untuk perkembangan masalah ada dugaan ISIS itu saya tidak tahu. Saya belum begitu mengikuti perkembangan kabar selanjutnya. Sebab saya sedang sakit dan dalam masa pengobatan,” katanya.

Mahasiswa Sasaran Empuk

Sementara itu, pengamat pendidikan Sirozi saat dihubungi mengatakan, mahasiswa memang rentan terpengaruh organisasi terlarang seperti ISIS karena mahasiswa punya rasa ingin tahu yang sangat tinggi.

Hal itulah yang membuat aliran sesat selalu menjadikan para mahasiswa sebagai sasaran untuk menjadi anggotanya. Apalagi jika mahasiswa itu tidak punya bekal menghadapi hal itu maka akan mudah terpengaruh.

“Mereka akan memberikan respon pada ajaran sesat karena mereka tertarik pada gerakan baru sebagai bentuk rasa ingin tahu. Mereka yang tidak memiliki basis pengetahuan keagamaan akan terpengaruh, tapi mereka yang punya landasan keagamaan akan dapat menangkalnya,” jelas Sirozi.

Untuk mencegah hal itu, bisa dilakukan dengan dua cara. Pertama dengan meningkatkan wawasan keagamaan dan kedua membangun basis komunitas.

Selama ini masyarakat sudah tidak asing lagi dengan pengajian orangtua. Tapi buat pengajian seumuran mahasiswa sangat jarang sekali.

Karena itu, mereka tidak mendapatkan wadah organisasi yang tepat, sehingga saat masuknya aliran sesat mudah saja memengaruhi mereka. Padahal pengajian akan dapat membuat para remaja ini meningkatkan pengetahuan keagamaannya dan juga menambah rekan sejawat sebagai tempat komunikasi mengenai agama.

“Jadi kalau masuk organisasi atau aliran baru, mereka setidaknya bisa konsultasi dengan teman lainnya,” ujarnya.

Saat disinggung mengenai kurangnya pengawasan dari Universitas Sriwijaya, Sirozi enggan berkomentar banyak karena menurutnya kurang etis memberikan penilaian akan hal itu.

“Saya rasa rektor atau pembantu rektor lebih mengetahui,” katanya singkat.

#adk/zal

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Apriyadi: Tahun 2018 Piala Adipura Harus Kembali ke Muba

Sekayu, BP–Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin targetkan meraih kembali piala adipura ke-12 pada tahun 2018, yang mana gagal pada tahun 2017 ...