Home / Sumsel / Panti Sosial Kekurangan SDM

Panti Sosial Kekurangan SDM

Palembang, BP
Empat Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) yang bekerja di bawah naungan Dinas Sosial Provinsi Sumsel masih kekurangan sumber daya manusia. Hal tersebut diketahui setelah inspeksi mendadak yang dilakukan Dinsos beberapa waktu lalu.

Empat panti yang berada di bawah naungan Dinsos Sumsel yakni Panti Sosial Karya Wanita Harapan (PSKWH) yang menangani wanita rentan permasalahan sosial ekonomi, Panti Sosial Bina Remaja (PSBR) yang menangani anak-anak putus sekolah, Panti Sosial Dharmapala yang menangani anak-anak nakal, dan Panti Sosial Tresna Werda yang menangani masyarakat lanjut usia (lansia.

Pelaksana Tugas Kepala Dinsos Sumsel Belman Karmuda mengatakan, UPTD atau yang lazim disebut sebagai panti sosial, harus memiliki SDM yang lengkap dan menyeluruh. Mulai dari kepala panti, pekerja sosial pns maupun honorer, tenaga ahli keterampilan, tenaga keamanan, ulama, psikolog, serta tenaga ahli medis.

Namun berdasarkan temuannya saat sidak, seluruh panti dalam keadaan kekurangan SDM. “Belum semua UPTD siap untuk menjalankan panti secara optimal. Masih ada SDM yang kurang. Kebanyakan, panti kekurangan tenaga ahli medis,” tuturnya, Rabu (5/8).

Terutama Dharmapala yang tidak memiliki tenaga medis sama sekali. Padahal, tenaga medis sangat penting dan sangat diperlukan bagi operasional panti. “Kalau misalnya anak-anak itu sakit saat malam-malam bagaimana? Atau saat puskesmas tutup. Makanya tenaga medis ini penting,” lanjutnya.

Secara detail ia merinci, PSKWH kekurangan tenaga bimbingan sosial, pekerja sosial, dan ulama, PSBR kekurang tenaga medis, Dharmapala kekurangan tenaga kerja PNS dan terlalu banyak pegawai honorer, dan panti lansia masih banyak kurang berbagai SDM seperti pekerja sosial dan tenaga medis.

Masalah lain yang dihadapi Dinsos adalah, kebanyakan pegawai panti bertempat tinggal di Palembang, sedangkan keempat panti tersebut berada di Kecamatan Inderalaya, Kabupaten Ogan Ilir.

“Operasional panti itu 24 jam, karena panti ibarat rumah bagi para penghuninya. Jadi kalau kebanyakan pegawainya pulang saat sore dan rumahnya jauh, saat ada kejadian insidentil dan memerlukan pegawai banyak, panti pasti kewalahan,” jelasnya.

Anak-anak nakal yang diasuh di Panti Sosial Dharmapala sering kali melarikan diri karena yang menjaga hanya dua orang pegawai keamanan plus satu kepala pantinya. Tak jarang pula, Belman menuturkan, anak-anak tersebut berurusan dengan aparat kepolisian.

“Itu sangat merepotkan. Maka dari itu, kita butuh SDM tambahan, dan juga pegawai yang ada stand by di panti. Atau minimal berdomisili di Inderalaya,” harapnya.

Solusi lainnya adalah, setiap panti membuat jadwal piket agar penjagaan malam hari diperketat dan juga lebih optimal dalam menangani para penghuninya.

Ia pun telah meminta setiap panti untuk melakukan analisa kebutuhan pegawai. Setelah ia menerima laporan dari panti, ia akan meneruskannya ke Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Sumsel.

“Nanti kami minta agar BKD bisa mencarikan tenaga ahli yang bersangkutan sesuai kebutuhan, dan ditempatkan di panti-panti yang membutuhkannya,” tandasnya. #idz

x

Jangan Lewatkan

Hujan Makin Sering, Waspadai DBD dan Sarang Nyamuk

Palembang, BP Cuaca yang kurang bersahabat perlu diwaspadai oleh warga Sumatera Selatan. Hingga akhir Desember, curah hujan diperkirakan masih tinggi ...