Home / Budaya / Khasanah / 8 Beranak Tinggal di Pondok Reyot

8 Beranak Tinggal di Pondok Reyot

0308.21.KAKI.HASHidup miskin tak didambakan Amir Hamzah (50), dan Inarwani (45). Keduanya bersama dengan 6 anak-anaknya harus tinggal di dalam gubuk kayu di tengah-tengah area persawahan dengan kondisi memprihatinkan.

PONDOK ukuran 3X3 meter yang ditempati keluarga itu berada di Gang Serumpun, Kelurahan Pelita Jaya, Kecamatan Lubuklinggau Barat II. Lokasinya jauh dari keramaian dan pemukiman padat penduduk. Mirisnya, pondok yang ditempati mereka itu berdiri di atas lahan milik orang lain. “Numpang di tanah Ponpes (Al Azhar) sudah dua bulan,” kata Inarwani, istri dari Amir Hamzah.

Keadaan yang dialaminya itu belum tersentuh perhatian pemerintah setempat. Untuk menghidupi keluarga sehari-hari, Inarwani dengan anak-anaknya menggarap sawah milik Ponpes Al Azhar. Hasil panen diberikan ke pemilik lahan dan sebagai upah, mereka diberi sebagiannya.”Bapak kerja sebagai tukang pemecah batu. Saya dengan anak-anak sehari-harinya garap sawah,” bebernya.

Baca:  Banyuasin Layak Jadi Tuan Rumah

Menurut Inarwani, kerja keras yang dilakukan dia, suami dan anak-anaknya tidaklah cukup memenuhi kehidupan mereka sehari-hari. Sang suami yang bekerja sebagai pemecah batu hanya diupah Rp40 ribu. Itupun terkadang tidak setiap hari.

“Tidak setiap hari. Kalau tidak punya uang minjam dengan toke batu di tempat bapak kerja,” celetuknya.

Selain kondisi pondok yang ditempati keluarga itu hanya beralas papan dan seng, tempat tidur mereka hanya dibatasi pakai kain sarung. Tak ayal, kondisi rumah di samping sempit, pengap, juga di malam hari gelap dan banyak nyamuk.

Baca:  Usai Lebaran, 30 Pasutri Gugat Cerai

“Kalau malam gelap, pakai lampu pijar (minyak). Tidurnya seperti ini,” kata Inarwani sembari menunjuk ke arah pembatas kain sarung sebagai pembatas ruang tidur untuk anak-anak , ia dan suaminya.

Sedangkan untuk aktivitas mandi, cuci dan kakus (MCK), mereka harus berjalan sekitar 200 meter. Sebab, kamar mandi yang digunakan mereka meminjam sumur milik Ponpes Al Azhar. “Kalau mau mandi atau buang air harus jalan,” bebernya.

Meski demikian, keadaan miskin keluarga tersebut tak membuat keceriaan ke enam anak-anak Amir Hamzah dan Inarwani pupus. Lima dari ke enam anaknya itu mendapatkan perhatian dari pihak Ponpes yang mengizinkan mereka untuk dapat mengenyam pendidikan di Ponpes tersebut.

Baca:  Disnakertrans Buka Posko Pengaduan

“Anak 8, tinggal di sini 6, perempuan 5, satu laki-laki yang sudah putus sekolah. Satu lagi masih kecil belum sekolah,” ujarnya.

Kartini (10), anak ke 6 pasangan Amir Hamzah dan Inarwani mengaku sepulang sekolah dirinya kerap membantu Ibunya yang menggarap sawah persis di depan pondok tempatnya tinggal. “Bapak begawe, Ibu garap sawah. Habis pulang sekolah bantu Ibu. Galak apo baelah,” kata Kartini malu.

Keterbukaan Kartini kepada Koran ini tak diikuti dengan anak-anak Amir Hamzah dan Inarwani lainnya. Mereka malu dan memilih bersembunyi dibalik kain sarung sebagai kamar mereka. Bahkan ketika dibujuk untuk mendekat diwawancarai, mereka tetap memilih bersembunyi karena malu. # frans kurniawan

x

Jangan Lewatkan

Raih Doktor Berkat Syair Perang Palembang

Tanjung Malim, Malaysia, BP Warga kota Palembang patut berbangga karena salah satu putra terbaiknya , R. H. M. Ali Masri, ...