Home / Headline / Petani Mulai Gunakan Pompa Air

Petani Mulai Gunakan Pompa Air

IMG_6231

  • Sawah Kekeringan


Banyuasin, BP

Kemarau panjang yang terjadi di wilayah Kabupaten Banyuasin membuat ribuan hektar areal pertanian kekurangan air. Kondisi ini memaksa para petani mengoptimalkan fungsi pompa air guna mengalirkan air ke areal persawahan. Seperti yang dilakukan para petani di Kecamatan Rantau Bayur.

Proses pengaliran air menggunakan pompa air tentu membutuhkan biaya untuk pembelian bahan bakar minyak. Hal ini membuat para petani harus berutang mulai Rp150.000 hingga Rp200.000.

“Untuk mesin pompa kami tidak kesulitan karena tinggal meminjam kepada kelompok tani. Namun dana operasional pompa yang memang cukup sulit kami penuhi. Kami terpaksa mengutang ke sana ke mari untuk memenuhinya,” ujar Toni (30), petani Desa Rantau Bayur.

Menurutnya, tidak ada hujan dalam dua bulan terakhir membuat areal persawahan kekeringan. Upaya pompanisasi harus dilakukan untuk menyelamatkan pertumbuhan padi. Usia tanaman yang
masih dua bulan akan sulit berkembang, bahkan terancam kerdil.

“Di musim kemarau seperti ini biaya bercocok tanam memang sangat tinggi. Namun memang modal bisa tertutup dengan hasil panen apabila memuaskan, karena harga jual gabah maupun padi pada musim seperti ini akan jauh lebih tinggi,” jelasnya.

Petani lainnya, Umar (45), mengaku, selama dua bulan terakhir biaya operasional pompa cukup membengkak karena petani harus melakukan pompanisasi setidaknya sepekan sekali agar areal sawah tidak mengering.

“Lahan saya sekitar satu hektar lebih, pemompaan air dari Sungai Musi dengan menggunakan pompa air berkapasitas 6 inci menghabiskan waktu delapan hingga sepuluh jam baru dapat mengaliri seluruh areal sawah,” katanya.

Kepala Desa Rantau Bayur Mansuri membenarkan warganya tengah kesulitan dana operasional penggunaan pompa air untuk mengaliri areal persawahan.

“Memang sekali pompanisasi areal sawah petani harus mengeluarkan dana hingga Rp150.000 hingga Rp200.000. Selama ini mereka melakukan seminggu sekali, selama dua bulan terakhir. Selama hujan belum turun, metode ini akan terus dilakukan hingga menjelang panen. Artinya butuh tambahan biaya lagi,” ungkapnya.

Di Kabupaten Ogan Ilir, sejumlah warga di Inderalaya , mulai merasakan kesulitan mendapatkan air bersih. Mereka terpaksa menggunakan air seadanya dari sisa air sumur yang terlihat sudah nampak mengering. Bahkan, ada warga yang terpaksa mengambil air penampungan dari masjid yang berjarak lumayan jauh dari rumahnya.

Menurut Martha (31), warga Kelurahan Inderalaya Indah, Kecamatan Inderalaya, sejak hampir dua minggu terakhir terpaksa menggunakan sisa air dari dalam sumur sedalam 30 meter untuk keperluan mandi, mencuci, dan lain-lain. Sedangkan, untuk keperluan konsumsi membeli air isi ulang seharga Rp6000 per galon.

“Iya, usai Lebaran sampai dengan saat ini, kami mulai merasakan kesulitan memperoleh air yang selama ini bersumber dari sumur. Kadang-kadang, untuk mandi pun, kami terpaksa membeli air isi ulang,” katanya.

Sementara itu Kepala Seksi TNKS wilayah V Kota Lubuklinggau Miskun, mengungkapkan, sekitar 1.000 hektar lahan sekunder di wilayah Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS) dilanda kekeringan.

“Total lahan sekunder di TNKS sekitar 7.000 hektar, dan di Lubuklinggau sekitar 1.000 hektar. Tanaman di atas lahan sekunder tersebut antara lain kopi dan semak belukar. Berdasarkan pantauan petugas dedaunan tanaman di lahan sekunder mulai kering,” jelasnya.

Selain memberikan imbauan kepada warga sekitar lahan taman nasional, petugas TNKS juga tetap mewaspadai aktivitas pengunjung di Bukit Sulap.

 

El Nino

 

Kasi Observasi dan Informasi Badan Stamet Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) II Agus Santosa, mengatakan, musim kemarau tahun ini lebih kering dibandingkan tahun lalu. Hal ini dikarenakan dampak El Nino yang melanda Indonesia khususnya bagian barat.

“Untuk suhu relatif masih sama dibandingkan tahun lalu, masih di bawah 34 derajat Celcius. Perbandingan secara umum belum bisa dipastikan kondisinya karena masih berjalan,” ujarnya, Selasa (28/7).

El Nino yang melanda Indonesia termasuk El Nino moderat atau sedang. Suhu permukaan laut di wilayah Indonesia barat relatif lebih hangat dibandingkan klimatologisnya. Sedangkan Indonesia tengah dan bagian timur cenderung lebih dingin.

Suhu muka laut di Samudera Hindia yang mengindikasikan terjadinya pengurangan pasokan uap air yang tidak signifikan ke wilayah Indonesia bagian barat, termasuk Sumsel.

“Bila pasokan uap air berkurang, otomatis pembentukan awan hujan berkurang. Karena itu pula curah hujan di Sumsel berkurang. Sebaliknya, di Indonesia timur hujan jadi lebih sering daripada biasanya. Bahkan di wilayah Samudera Pasifik, lebih sering terjadi hujan badai. Kondisi ini diperkirakan berlangsung hingga November,” katanya.

El Nino adalah gejala penyimpangan pada suhu permukaan Samudera Pasifik, tepatnya di sekitar pantai Barat Ekuador dan Peru yang lebih tinggi daripada rata-rata. El Nino terjadi karena pemanasan di ekuator Samudra Pasifik dan pemanasan global yang juga menjadi salah satu unsurnya.

El Nino hampir terjadi setiap tahun dan Indonesia merupakan salah satu negara yang sering terkena dampak El Nino karena letak geografisnya yang strategis di Samudera Pasifik.

Provinsi lain yang juga akan terkena dampak El Nino di antaranya Lampung, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Bali, Sumatera Utara, NTB, Aceh, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, serta Jawa Tengah.

El Nino juga mengakibatkan kemunduran awal hujan di beberapa wilayah. Agus menuturkan, fenomena El Nino yang tidak terlepas dari suhu permukaan laut fasifik kondisinya sekarang tidak terlalu menakutkan, meski harus tetap diwaspadai.

“Kami berharap masyarakat Sumsel dapat menghadapi kemungkinan perubahan cuaca yang ekstrim serta dapat meminimalkan kerugian,” tandasnya. #mew/hen/kur/idz

 

x

Jangan Lewatkan

Dana Bantuan 11 Parpol Di Sumsel Tahun 2017 Capai Rp 2.030.811.552

Palembang, BP Hingga saat ini Badan Kesatuan Bangsa Dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Sumsel belum menerima secara resmi petunjuk pelaksanaan (juklak) ...