Home / Pendidikan / 108 Prodi Terancam Ditutup

108 Prodi Terancam Ditutup

Palembang, BP

Persoalan nisbah (rasio) dosen dan mahasiswa menjadi persoalan sulit bagi Peguruan Tinggi Swasta (PTS), Politeknik dan Sekolah Tinggi Swasta di wilayah Sumatera Selatan (Sumsel). Terbukti, 108 program studi (Prodi) terancam dinonaktifkan karena tidak mampu memenuhi rasio dosen.

Dilansir dari website Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah II, sebanyak 108 Prodi itu mendapat surat peringatan (SP) kedua dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Jika tidak mampu

memenuhi rasio dosen untuk IPA dengan toleransi 1:30 dan IPS 1:45 hingga 31 Desember 2015, maka sanksi penutupan Prodi akan dilakukan.

Adapun PTS yang mendapat SP 2 adalah Universitas Tamansiswa, di mana enam Prodi terbukti melanggar rasio dosen. Prodi tersebut adalah Teknik Mesin, Teknik Sipil, Ilmu Pemerintahan, Akuntansi, Manajemen dan Ilmu Hukum.

Kemudian Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP) dengan Prodi Agribisnis, Agroteknologi, Teknik Elektro, Teknik Industri, Teknik Sipil, Profesi Dokter, Akuntansi dan Biologi. Universitas Tridinanti Palembang dengan Prodi Teknik Elektro, Teknik Mesin, Teknik Sipil dan Manajemen.

Selanjutnya, Universitas Sjakhyakirti dengan Prodi Agroteknologi, Ilmu Adminitrasi Negara, Akuntansi dan Ilmu Adminitrasi Publik. PGRI Palembang dengan Prodi Teknik Elekto, Bimbingan Konseling, Pendidikan Geografi, Pendidikan Olahraga, Seni Drama dan PG Paud. Serta Bina Darma dengan 11 Prodi yang juga masuk dalam SP 2.

Peringatan ini direspon cepat beberapa PTS seperti UTP. Rektor UTP Dr Ir Hj Manisah, MP, mengatakan, guna memenuhi rasio dosen khususnya prodi yang memang kekurangan dosen, pihaknya sudah melalukan berbagai cara seperti merekrut dosen yang sudah berjalan sejak lama.

Sebelum pengrekrutan sendiri pihaknya sudah memasang iklan baik di surat kabar maupun di website. Bukan itu saja dari mulut ke mulut dosen sudah dilakukan juga meminta kepada Universitas Sriwijaya (Unsri) untuk merekomendasi dosen yang sudah mendaftar baik dari Unsri dan luar Sumsel.

“Ini kami lakukan berbagai cara agar yang peminat khususnya dosen akan lebih banyak, sehingga prodi yang ada itu akan tercukupi rasio dosennya,” kata Manisah kepada BeritaPagi, Rabu (22/7).

Ia juga mengakui, bahwa memang ada beberapa prodi yang memang masih kekurangan dosen di antaranya, prodi Teknik Elektro, Teknik Mesin, Teknis Sipil dan Manajemen. Memang sudah banyak yang sudah melamar, tetapi banyak juga dosen tersebut tidak linier sehingga otomatis tidak bisa diterima.

“Selain itu juga kami saat ini melakukan kaderisasi, mengingat dosen yang ada itu umurnya sudah 50 tahun. Kami memang merasa kesulitan untuk mengrekrut dosen khususnya teknik. Oleh karena itu, kami berencana akan menjalin kerja sama dengan Unsri khususnya untuk dosen teknik. Rencananya pihaknya akan menerima sedikitnya 25 dosen baru, yang nantinya akan diuji Tes Potensi Akademik dan Tes Kepribadian,” ujarnya.

Pembantu Rektor (PR) I Tamansiswa Lusmaniar mengatakan, saat ini sedang melakukan pengrekrutan dosen khususnya untuk mengisi prodi yang memang kekurangan dosen. Selanjutnya nantinya akan dilaporkan terlebih dahulu ke pihak yayasan sebelum diterima menjadi dosen.

“Untuk saat ini saya belum bisa merincikan pastinya ada berapa dosen yang akan direkrut, mengingat ini masih libur,” ujarnya.

“Kami pastikan sebelum memasuki tahun ajaran baru awal September mendatang seluruh prodi akan tercukupi semua rasio dosennya,” imbuhnya.

Rektor Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP) H M Idris mengatakan, masih ada beberapa program studi yang belum memenuhi rasio dosen untuk menjadi tenaga pengajar. Memang ada beberapa program studi yang belum memenuhi rasio dosen seperti Manajemen, Akuntansi, Pendidikan Biologi, Teknik Elektro dan Teknik Sipil.

“Ini semua sedang berjalan, pengrekrutann menjelang tahun ajaran baru nanti tidak ada lagi prodi yang masih kurang,” katanya.

Lebih lanjut Idris mengatakan, pihaknya juga mengusulkan kepada pusat agar dosen yang belum memiliki nomor induk dosen akan segera memiliki. Sehingga ke depan tidak ada lagi kendala seperti kekurangan dosen.

“Apa yang sudah menjadi ketentuan Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti) akan kami jalankan, dan komitmen untuk tidak melanggar aturan,” tegasnya.

Ia juga menambahkan, guna meminimalisir terjadinya status non aktif di perguruan tinggi, pihaknya terus melakukan pembenahan dan fokus meningkatkan kualitas dan kualifikasi sumber daya manusia (SDM) hingga men-support dosen untuk meraih guru besar.

“Kalau sarana prasarana dan kualifikasi dosen memenuhi standar, tentu kualitas pendidikan yang akan diperoleh mahasiswa akan maksimal,” pungkasnya. O adk

 

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

UIN Minta Alumni Segera Proses PIN di Kampus

Palembang, BP Berangkat dari berkembangnya isu mengenai alumni Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang yang tak bisa mengikuti program ...