Home / Pendidikan / UIN Raden Fatah Lahirkan Doktor Pertama

UIN Raden Fatah Lahirkan Doktor Pertama

Palembang, BP

BP/DUDY OSKANDAR GELAR DOKTOR : Abdul Shobur foto bersama usai pemaparan disertasi di UIN Raden Fatah Palembang, Jumat (3/7)

BP/DUDY OSKANDAR
GELAR DOKTOR : Abdul Shobur foto bersama usai pemaparan disertasi di UIN Raden Fatah Palembang, Jumat (3/7)

Pascameningkatnya status Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden Fatah Palembang, menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Pascasarjana UIN Raden Fatah berhasil menelurkan gelar doktor S3 perdana.

Gelar dokor perdana Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang diberikan kepada Wakil Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka H Abdul Shobur, yang meraih gelar doktor S3 Program Studi (Prodi) Peradaban Islam Konsentrasi Melayu Islam Nusantara. Dia lulus dengan dengan hasil sangat memuaskan dengan nilai disertasi 91.

Shobur bisa meyakinkan promotor ujian disertasi Prof Dr Irwan Abdullah, MA, dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan Co Promotor Prof Dr H Abdullah, Idi, Med. Sedangkan Ketua Tim Penguji Prof Dr Aflatun Muchtar, MA, Sekretaris Tim Dr Idrus Al Kaf, MA, dengan anggota Prof Dr J Suyuthi Pulungan, MA, Prof Dr Jalaludin, MA, Dr Muhammad Adil, MA dan Dr Alfi Julizun.

Shobur tampil dengan disertasinya berjudul Dislokasi Identitas Melayu Islam pada Era Globalisasi di Palembang. Mantan Sekretaris DPRD Sumsel ini meraih gelar doktor perdana UIN Raden Fatah. Pengukuhan Shobur dilakukan di ruang Promosi Doktor Gedung Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang, Jumat (3/7).

Menurut Direktur Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang Prof Abdullah, Idi, Med, mengatakan, Shobur menyelesaikan kuliah doktor dalam waktu kurang lebih empat tahun. Selain dinobatkan sebagai Doktor Peradaban Islam, Abdul Shobur dikukuhkan sebagai Ketua Alumni Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang.

Abdul Shobur mengatakan butuh dua tahun bagi dirinya melakukan studi, riset dan menyelesaikan disertasi tersebut. Dia mengaku lebih membahas pergeseran identitas Melayu Islam di Palembang akibat globalisasi.

Menurutnya masyarakat kini sudah melupakan identitas Melayu Islam, padahal pusat sejarah melayu berawal di Palembang tepatnya di Bukit Siguntang. Kata dia, Melayu di Palembang di mulai sejak zaman Sriwijaya abad ke-7 dan berlanjut ke Melayu Islam.

Dan sejak abad 15 dilanjutkan oleh Kerajaan Palembang Darusalam.

“Budaya Melayu Islam harus kita jaga dan budayakan dan didukung lembaga pemerintah. Pendidikan ini harus dilestarikan dengan membuat kajian bersama apalagi saat ini sudah ada otonomi daerah,” kata Shobur.

#osk

x

Jangan Lewatkan

Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan di KI Meriah

Palembang, BP–Women’s Crisis Centre (WCC) Palembang menggelar kampanye 16 hari Anti kekerasan Terhadap perempuan tahun 2017, di Kambang Iwak, Palembang, ...