Home / Pendidikan / Sumsel Kekurangan Peneliti

Sumsel Kekurangan Peneliti

 

Palembang, BP

Ketua Komisi II DPRD Sumsel Joncik Muhammad meminta, Perguruan Tinggi (PT) di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) ikut terlibat langsung dalam mengembangkan sektor pertanian, peternakan dan perkebunan. Pasalnya, Sumsel masih kekurangan tenaga penelitian.

“Kita kekurangan tenaga penelitian, malahan akademisi kita berubah profesi sebagai politisi setelah jadi profesor dan doktor, karena banyak ingin potong kompas dengan dua tahun dan tiga tahun jadi OKB. Sejauh ini, negara belum menghargai peneliti ini, seperti di Malaysia peneliti lebih dihargai sehingga mereka menjadi maju,” kata Joncik Muhammad, Selasa (19/5).

Walaupun demikian, sejumlah Perguruan Tinggi seperti Universitas Sriwijaya (Unsri) sudah mengembangkan lahan rawa untuk pertanian di Banyuasin. Termasuk pengembangan peternakan dengan mengembangkan kerbau rawa. Menurutnya, keterlibatan akademisi sangat penting apalagi pemerintah pusat meminta provinsi Sumsel untuk menambah produksi padi pada tahun 2015.

“Pemerintahan Jokowi meminta Sumsel untuk menjadi prioritas lumbung pangan dengan peningkatan produksi padi,” katanya.

Kata dia, pemerintah pusat meminta Sumsel untuk menambah sekitar 1,3 juta ton gabah kering giling pada tahun 2015. Sementara sekarang ini produksi padi di Sumsel sekitar 2,6 juta ton gabah kering giling.

Ia mengatakan, anggaran pertanian dari pemerintah pusat yang masuk ke Sumsel hampir Rp1 triliun pada tahun 2015. Dana itu dianggarkan dalam APBN perubahan 2015 yang berasal dari daerah pemilihan Kabupaten Lahat, Pagaralam dan Kabupaten Empatlawang.

“Pemerintah pusat membantu traktor tangan, mesin pompa, pupuk organik, bibit padi, bibit jagung dan alat mesin pertanian. Jadi, Sumsel ini ditarget produksi padi terbesar di luar Pulau Jawa setelah Provinsi Lampung,” katanya.

Ia menyatakan, di Sumsel banyak lahan rawa yang merupakan daerah penghasil padi. Makanya, lahan yang untuk sekali tanam digenjot menjadi dua kali tanam untuk menambah jumlah produksi padi tersebut. Lahan rawa itu terutama di Kabupaten Banyuasin, Musi Banyuasin (Muba), Ogan Komering Ilir (OKI) dan Kabupaten Ogan Ilir (OI).

“Sumsel harus mampu untuk menambah peningkatan jumlah produksi padi, kalau tidak mampu maka dianggap gagal. Mestinya mampu dengan adanya bantuan traktor tangan tersebut,” katanya.

#osk

 


x

Jangan Lewatkan

UKB Incar Akreditas A di Tahun 2020

Palembang, BP — Sebagai salah satu kampus swasta terkemuka di Palembang, Universitas Kader Bangsa (UKB) terus melakukan upaya peningkatan kualitas ...