Home / Budaya / Cerpen / Apa Kabarmu Sayang

Apa Kabarmu Sayang

 

 

 

 

Cerita Pendek Tika Permata

“And now I realize I have to go leaving you here. Dont be waiting for me. Remember me in your heart, and I will kiss you from heaven…”

DI tengah hiruk pikuk dan kemacetan Ibukota Jakarta, mendadak lagu tersebut terlantun kembali di dalam kepalaku. Sebuah lagu yang ditunjukkan oleh teman kantorku, karena anaknya menunjukkan lagu tersebut. Anak temanku itu mempunyai teman, yang merupakan salah satu anggota band yang menyanyikan lagu tersebut. Sebuah lagu berjudul About Someone dari Selimut Cokelat ini, mampu membuatku kembali ke tujuh tahun yang lalu…

*     *     *

Sore tadi…

“Coba deh denger, musiknya calming,”  ucap temanku yang bernama Adrian tersebut, sambil menyodorkan headsetnya kepadaku. Dengan sigap, aku meraihnya. Dan entah mengapa, aku langsung jatuh cinta dengan irama musik lagu tersebut. “Lagunya lo banget, Ndri,” lanjutnya sambil mengetik dari bilik sebelahku. Aku hanya tersenyum tipis, tidak mengerti maksudnya.

“Kok begitu?” tanyaku kepada Adrian yang kini sedang sibuk menulis artikel mengenai kesehatan.

“Pinter Bahasa Inggris kan? Dengerin liriknya deh,“ ucapnya sambil tetap mengetik dan mengunyah buah jambu yang kubeli tadi di pasar.

Aku hanya mengerdikkan bahuku, dan mencoba mendengarkan lagu tersebut dengan seksama.

“Nih, gue kasih deh iPod gue biar lo bisa dengerin dan ngerti maksud gue,“ ucapnya sambil menyerahkan benda berwarna hitam tersebut kepadaku. Aku hanya mengangguk dan mengambil iPodnya. Lalu, aku memasang kedua headset tersebut agar aku bisa mendengar dengan seksama lagu tersebut.

I tried close my eyes, and I’m thinking how to tell you. That I have to go, so far…

And remember, what I said. You will always be my lover, although, I have to say good-bye.

I wish I could go back to the past. When we were laugh, sick, desperate. We passed it together we passed it together, my love.

And now I realize, I have to go leaving you here. Don’t be waiting for me. Remember me in your heart, and I will kiss you from… Heaven…

Adrian benar, lagu ini untuk diriku. Seperti sebuah pesan dari Wina, untukku…

*     *     *

Wina namanya. Lengkapnya adalah Winardi Rosalina. Ia adalah kekasihku semenjak bangku kuliah. Hingga pada akhirnya, kami berdua memutuskan untuk menikah dua puluh tahun yang lalu.

Mencintainya tidak begitu susah, meskipun pernikahan kadang terasa tidak mudah. Begitu banyak hal yang kami lalui pada masa-masa pernikahan tersebut. Senang dan susah, suka dan duka kami lalui bersama. Meskipun aku sering pulang malam dari kantor, Wina selalu setia menungguku pulang setelah ia menidurkan anak kami yang kala itu masih balita.

Wina sendiri adalah ibu rumah tangga. Setelah melahirkan anak yang pertama, ia memutuskan untuk tidak bekerja lagi. Ia mengerahkan segenap perhatiannya untuk anak kami. “Aku tak ingin, dia menjadi anak pembantu. Aku ingin dia mendapatkan perhatian yang dahulu hilang ketika aku masih anak-anak,” ucapnya kala itu.

Dan di sela-sela kesibukannya sebagai ibu rumah tangga, Wina suka sekali menulis puisi, yang mungkin hanya bisa dimengerti beberapa orang saja. Meskipun begitu, sesekali ia menulis puisi untuk diriku ketika hari kelahiranku tiba. Lengkap dengan sebuah kue cokelat dan berempat dengan anakku, kami akan meniup lilin bersama.

Kala itu, ia sedang memeriksakan dirinya ke rumah sakit, karena merasa tidak sehat. Dan dokter, menyarankan untuk rawat inap sementara karena gejalanya yang dirasakan Wina sudah cukup lama.

“Aku dirawat di rumah sakit. Bisa kamu segera datang? Dokter ingin bertemu denganmu,” ucapnya cukup serius pada hari itu.

Aku tahu, ada yang tidak beres. Dan itu dibuktikan dengan perkataan dokter, ketika ia menemui diriku seorang diri, setelah kami berdua bertemu di ruang rawat inap bersama Wina.

“Istri bapak sudah mengidap kanker rahim stadium akhir. Mungkin tidak bisa dihilangkan dengan kemoterapi, tapi ada obat yang bisa digunakan untuk mengurangi perkembangan sel kanker dalam rahim istri bapak,“ ucapnya kala itu.

Tanpa keraguan, aku mengiyakan apapun yang disarankan oleh dokter. Apapun, yang terbaik untuk Wina. Meskipun takdir pada akhirnya berkata lain. Tiga bulan setelah pengobatannya, Wina kemudian dipanggil Sang Illahi. Meninggalkanku, dan dua anak kami yang masih berusia tiga belas dan delapan tahun…

*     *     *

Lagu tersebut masih saja menempel dalam kepalaku. Entah mengapa, Tuhan seperti merencanakan bahwa diriku akan mendengar lagu tersebut tepat pada hari ini. Hari istimewa bagiku dan Wina. Hari di mana, kita berdua mengikat janji sehidup semati. Dan benar adanya, kematian dirinya lah yang kini memisahkan diriku dengannya.

Meskipun ia telah tiada, aku masih bisa merasakan hadirnya melalui mimpiku. Kebiasaanku untuk memberikan sebuket mawar yang memang seperti namanya, kini harus berubah menjadi taburan bunga dan air mawar pada makamnya. Dan tak pernah lupa aku sisipkan dengan doa, agar tenang dirinya berada di alam sana.

Wina, apa kabarmu sayang?

Ciputat, 12 Mei 2015