Home / Bisnis / IKM Sumsel Minus 3,42%

IKM Sumsel Minus 3,42%

Palembang, BP

Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Selatan (Sumsel) mencatat hingga Triwulan I 2015, pertumbuhan produksi Industri Kecil Menengah (IKM) Sumsel mengalami minus 3,42%, turun dibanding triwulan sebelumnya sebesar 2,98 persen.

Kepala BPS Sumsel Bachdi Ruswana mengatakan, BPS tetap mencatat terjadi pertumbuhan dari beberapa sektor, yakni industri alat angkutan. Industri alat angkutan mampu tumbuh sebesar 13,20%. Sedangkan sektor terpuruk yakni industri minuman yakni minus 12,74 persen. “Jika dibanding nasional, growth (pertumbuhan-red) IMK Sumsel lebih rendah dari growth nasional yang tetap tumbuh 0,64%,” katanya.

Baca:  Pengusaha Keluhkan Rendahnya Daya Beli

Dikatakannya, dari 18 jenis IMK di Sumsel yang dijadikan sample pada survei IMK Triwulan I, ada tiga jenis industri yang mengalami growth produksi tertinggi yakni industri alat angkutan, industri kulit dari kulit dan alas kaki tumbuh 11,76 persen, dan industri farmasi, produk obat kimia dan tradisional tumbuh 10,14%.

Sementara tiga jenis industri yang mengalami perlambatan produksi terendah yakni industri minuman, industri barang logam, bukan mesin dan peralatan minus 10,84%, industri percetakan dan reproduksi media rekaman melambat sebesar minus 9,16%.

Baca:  Penyerapan Dana Bergulir Masih Rendah

“Secara year on year (yoy), produksi IMK Sumsel mengalami growth negatif sebesar 0,48%. Growth tertinggi masih dipegang industri karet, barang dari karet dan plastik, diikuti industri furniture dan makanan,” katanya.

Sementara untuk Industri Manufaktur Besar Sedang (IBS) di Sumsel pada Triwulan I 2015 mengalami growth sebesar 7,52% atau meningkat dibandingkan dengan Triwulan IV 2014 sebesar minus 0,98%.

Baca:  Gapensi Siap Garap Proyek Senilai Rp118 T

Pertumbuhan tertinggi terjadi pada industri kayu, barang dari kayu dan gabus serta barang anyaman dari bambu dan rotan sebesar 11,09%. Justru pertumbuhan terendah terjadi pada industri karet, barang dari karet dan plastik sebesar 1,59%. “Indikasinya anjloknya harga karet membuat industrinya ikut melambat,” ujarnya.

Secara yoy, growth IBS justru lebih tinggi dibanding growth secara triwulan. Secara tahunan, growth tertinggi terjadi pada industri makanan dan growth terendah pada industri karet.#pit

x

Jangan Lewatkan

Dirut PT Bukit Asam Arviyan Arifin: Pabrik Pengolahan Gasifikasi Batubara Beroperasi 2022

Jakarta, BP–Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk Arviyan Arifin, Direktur Utama  PT Pertamina (Persero) Elia massa Manik, Direktur Utama PT ...