Home / Minggu / Laporan Khusus / Dari Anak-Anak Sampai Ibu Rumah Tangga Demam Batu Akik

Dari Anak-Anak Sampai Ibu Rumah Tangga Demam Batu Akik

 

0205.01.KAKI.HAS

DEMAM AKIK : Sejumlah ibu-ibu rumah tangga besetra anaknya sedang asyik mencari bahan batu akik untuk diasah menjadi liontin dan cincin yang dijajakan pedagang di Jalan Ahmad Yani, Kota Lubuklinggau

Fenomena demam batu akik di wilayah Kota Lubuklinggau dan sekitarnya tidak hanya melanda kaum Adam. Tak sedikit dapat dijumpai Ibu Rumah Tangga (IRT) bersama anaknya sengaja memilah dan memilih bahan batu akik dipinggiran Jalan Lintas Sumatera, tepatnya di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Kenanga, Kecamatan Lubuklinggau Utara II.
SEOLAH tak mau kalah mereka terlihat cekatan mencari bahan batu akik yang mau diasah menjadi liontin dan cincin. Sehingga, paradigma batu akik hanya dipakai kaum Adam serta identik dengan aksesoris dukun sirna jika melihat para kaum Hawa ikut menikmati demam batu akik.

Pantauan dilapangan, sebagian besar ibu-ibu rumah tangga tersebut mencari bahan batu akik jenis Teratai, Sakura, Panca Warna, Red Calsedony, White Calsedony, Yellow Calsedony, batu motif dan lainnya. Ada juga yang mencari bahan batu akik berasal dari Aceh, seperti Black Jade, Giok Aceh dan Belimbing.

“Saya cari bahan Teratai untuk diasah jadi liontin dan cincin. Dan bahan lainnya untuk dikirim kepada keluarga di Jakarta,” kata Sherly (43), seorang ibu rumah tangga ketika dijumpai sedang serius mencari bahan-bahan batu akik yang dijajakan pedagang dipinggiran Jalan Ahmad Yani.

Baca:  Pameran Batu Mulia Terbesar di Indonesia

Menurutnya, dia sengaja bersama empat rekannya berjalan-jalan mengisi liburan akhir pekan untuk mencari bahan batu akik. “Libur cukup panjang, jadi kami manfaatkan cari bahan batu akik. Kami masing-masing beli bahan satu jenis saja, nanti sampai dirumah saling bertukar bahan,” ungkapnya seraya tersenyum.

Narti (34), ibu rumah tangga lainnya mengatakan, khusus batu akik di cendrung memilih bahan yang jernih dan terang tanpa motif. Sebab, kecerahan serta kejernihan batu akik diyakininya lebih indah dipandang dari bahan lainnya. “Saya beli bahan warna merah dan putih. Saya belum tahu hasilnya, tunggu saja kalau sudah diasah,” tegasnya.

Sementara itu, Siti (41), salah seorang penjual batu akik dipinggiran Jalan Ahmad Yani mengaku, harga jual yang mereka tawarkan bervariasi sesuai dengan batu akik yang dicari pembeli. “Semuanya dijual sistem lempengan. Jadi pembeli tidak ragu lagi dengan isi dalam batu akik. Kalau harga per lempengnya Rp. 20.000 sampai Rp. 100.000. Saya juga jual batu akik yang sudah diasah harganya Rp. 100.000 perbutir,” bebernya.

Setiap hari, Siti mengaku bisa mengumpulkan omzet sekitar Rp. 500.000. Namun, pendapatan itu belum dihitung dengan biaya operasional dan transportasi selama jualan batu. “Lumayanlah mas, kalau rata-rata bersih Rp. 200.000 keuntungan bersih jualan bahan batu akik perhari. Sebab, omzet yang masuk ke kantong kami harus dipotong biaya beli bahan, potong bahan dan iuran jualan batu disini,” pungkasnya.

Baca:  Heboh, Batu Bermotif Wajah di Kayuagung

Sementara itu, untuk terus mengembangkan minat dan kecintaan masyarakat dengan batu akik, maka pemerintah Kota Lubuklinggau bekerjasama dengan penggiat batu akik menggelar kontes batu akik tingkat nasional dalam rangka Walikota Lubuklinggau Cup di Sindang Convention Center pada tanggal 21-27 Mei mendatang. Pihak panitia menyiapkan 10 kategori kontes sesuai jenis dan varian batu akik.

Panitia pelaksana kontes batu, Hindra Soemarjono melalui Ronel dan Andy berdasarkan selebaran yang mereka bagikan menyebutkan, 8 kategoru kontes yaitu, jenis Red Chalcedony, Yellow Chalcedony, Orange Chalcedony, White Chalcedony, akik gambar, akik berpola (badar, kristal, junjung derajat, sumur bandung, sulaiman kurung, tapak jalak).

“Kami juga membuka kelas akik bebas abstrak, kelak lokal khusus spesial teratai dan kelas lokal mix bebas (serat lalang, lumut, panca warna, fosil, sakura, pirit dan lain-lain,” bebernya.

Para pemenang kontes masing-masing mendapatkan uang Rp. 3 juta untuk juara pertama, uang Rp. 2 juta juara ketiga dan uang Rp. 1 juta untuk juara ketiga. “Para pemenang juga mendapatkan tropy, piagam dan tiket menuju grand prix IGS,” katanya.
Ditegaskannya, para peserta tidak perlu khawatir dengan netralitas dan transparansi dalam pertandingan tersebut. Sebab, panitia lokal sengaja mendatangkan para juri yang profesional dibidangnya. “Kami melibatkan IGS untuk penilaian kontes. Khusus hadiah door prize disiapkan satu unit sepeda motor,” ungkapnya.

Baca:  Batu Akik Masuk Toko Buku

Untuk pendaftaran kata Ronel, mulai dibuka tanggal 27 April-24 Mei 2015 di Smart Hotel Kota Lubuklinggau dengan besaran biaya pendaftaran, kelas umum Rp. 150 ribu dan kelas lokal Rp. 100 ribu. “Info lebih lanjut rekan-rekan pecinta batu akik dapat menghubungi no kontak 081278262868 dan 085267065552,” pungkasnya.

Sementara itu, Riskan (25), salah satu penggiat batu akik asal Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu menyatakan ketertarikannya untuk mengikuti kontes batu akik di Kota Lubuklinggau. “Inshaa Allah saya ikut, sekarang saya sedang menyiapkan batu-batu sesuai kelasnya. Tapi untuk sementara fokus mencari akik gambar yang layak dipertandingkan,” katanya.
Dia berharap mampu menembus juara satu atau dua dalam kontes itu sebagai bekal mengikuti kontes batu akik lebih tinggi lagi. “Semoga saja saya menang nanti. Saya juga sering mengikuti kontes batu akik, tapi baru satu kali menang di Kabupaten Empat Lawang kemarin,” tukasnya. # frans kurniawan

x

Jangan Lewatkan

Walikota Linggau Ancam Pecat Kepala Puskesmas

Lubuklinggau, BP Walikota Lubuklinggau H SN Prana Putra Sohe mengancam akan memecat kepala Puskesmas yang tersedar di delapan kecamatan jika ...