Home / Budaya / Palembang Tempo Dulu / Adat, Taji dan Aksara di Pasoemah

Adat, Taji dan Aksara di Pasoemah

PRANATA sosial lain yang ada di Pasoemah adalah adat menerima dan memberi perlindungan kepada pelarian-pelarian dari tempat lain. Pranata ini sesuai dan sejalan dengan konsep kemandirian (otonomi) dan keramahtamahan yang dimiliki orang Pasoemah. Siapa pun, apakah itu penjahat atau bukan, diterima dan dilindungi.

Walau sekeras apa pun kecaman dari para kepala adat, sebesar apa pun tekanan untuk menyerahkan seorang pelarian kepada pihak yang berwajib dan betapa pun bahayanya melindungi seorang yang meminta bantuan, orang Pasoemah bergeming. Mereka takkan menarik kembali perlindungan itu. Walaupun keyakinan kuat ini menunjukkan karakter positif yang sangat kuat, hal itu membawa aspek negatif yang tampaknya acap tidak diperhatikan warga Pasoemah sendiri.

Karena semua orang—yang baik-baik maupun yang kurang baik—diterima dengan tangan terbuka, tanah Pasoemah dibanjiri oleh orang yang sebetulnya tidak diharapkan. Tentunya, orang-orang itu pun (dapat) membawa pengaruh yang tidak baik ke warga Pasoemah sendiri. Hal ini sudah acapkali terjadi. Gramberg mengajukan contoh Radja Tiang Alam yang pernah mencari perlindungan di daerah itu.

Hanya budak yang melarikan diri saja yang tidak dilindungi di Pasoemah. Ia akan diserahkan bila budak itu dituntut kembali oleh pemiliknya. Ini dapat dipahami mengingat maraknya perbudakan di Pasoemah. Di mata orang Pasoemah, seorang budak bukanlah manusia karena ia tidak memiliki kemerdekaan (diri). Budak adalah semacam alat hidup yang dapat diperjualbelikan. Dalam konteks ini, bila seorang tetangganya meminta kembali sebuah ‘alat’ yang digunakannya untuk bekerja, tentunya alat itu harus dikembalikan. Pun bila ‘alat’ itu adalah seorang budak.

Dahulu kala, perdagangan budak merupakan salah satu mata pencaharian di Palembang. Aksi pembegalan dan penculikan dilakukan untuk memperoleh komoditi dagang—budak—yang baik. Akan tetapi, budak bukan hanya orang yang pernah diculik dan dirampas kemerdekaannya saja. Perbudakan itu juga merupakan sisa dari pranata pandeling (penggadaian diri karena hutang).

Seperti banyak masyarakat di nusantara, orang Pasoemah suka bermain judi. Kemampuannya bermain dadu dan mengadu ayam (samboeng) hampir tak terkalahkan di Sumatra. Ini menurut Gramberg. Banyak orang Pasoemah memelihara setidak-tidaknya seekor atau bahkan beberapa ekor ayam aduan yang dipelihara dan dilatih dengan cermat.

Pada saat diadu, seekor ayam aduan diberi taji besi pula untuk dapat mengalahkan lawannya. Pesta dan perhelatan adat biasanya diramaikan dengan acara adu ayam. Acara ini merupakan bentuk perjudian yang membutakan banyak warga Pasoemah. Mereka acap menyediakan uang dalam jumlah besar untuk dipertaruhkan pada kemenangan ayam yang dijagokannya. Bahkan, mereka bersedia berhutang untuk bertaruh. Bila hutang itu tak dapat dilunasi, ia menjadi pandeling sampai ia sanggup melunasinya. Malangnya, seringkali hutang itu tak terlunasi sehingga bila ia meninggal dunia, hutang itu diwarisi oleh isteri dan anak-anaknya. Mereka pun lalu menjadi pandeling.

Ketika Gramberg menulis artikel ini, di Pasoemah masih ada budak, akan tetapi perdagangan budak tidak ada lagi. Pemerintah Hindia-Belanda melarangnya. Karena Pasoemah dikelilingi oleh daerah-daerah yang sudah termasuk dalam wilayah kekuasaan Belanda, budak-budak itu tidak dapat lagi dibawa ke luar Pasoemah untuk diperdagangkan.

Kesediaan menerima dan memberikan perlindungan kepada orang luar, tidak berarti bahwa di dalam kehidupan sehari-hari, orang Pasoemah pandai bergaul. Ramah-tamah dalam sikap merupakan hal yang tidak terlalu tampak di Pasoemah. Seringkali mereka bersikap kaku terhadap pendatang. Hal ini mungkin disebabkan oleh sedikitnya pergaulan mereka dengan orang dari luar daerahnya.

Letak daerah Pasoemah dan sulitnya komunikasi dengan daerah di luar Pasoemah membuat perdagangan tidak terlalu berkembang. Hal ini menyebabkan bahwa orang Pasoemah sebetulnya jarang berhubungan dengan orang dari luar daerahnya sehingga seorang pendatang betul-betul merasakan diri sebagai orang ‘asing’ di daerah itu. Ini pun berbeda dengan masyarakat Semendo di daerah yang bertetanggaan dengan Pasoemah yang lebih terbiasa berhubungan dan berhadapan dengan orang luar.

Hanya beberapa kepala adat saja yang menguasai bahasa Melayu. Namun demikian, orang Pasoemah memiliki aksara tersendiri yang disebut aksara Rantjong. Di daerah dataran rendah Palembang, aksara ini dikenal dengan nama aksara Oeloe. Aksara ini terdiri dari garis-garis lurus yang saling berhubungan pada sudut tertentu. Biasanya aksara ini diguratkan pada sebilah bambu dengan menggunakan ujung pisau atau keris.

Pustaka Acuan:

JSG Gramberg. De Inlijving van het Pasoemah. Batavia: HM van Dorp. 1865.

Pedang Palembang dengan gagang berhias dari besi (Volkenkunde Museum, Leid)

 

 

Kepercayaan, Kemewahan dan Persenjataan di Pasoemah

BANYAK orang mencatat bahwa orang Pasoemah memeluk agama Islam. Namun demikian, mereka sangat percaya akan keberadaan puyang, yaitu arwah nenek-moyang. Dalam kepercayaan Pasoemah, segala-sesuatu yang tidak disukai oleh para puyang, akan menimbulkan murka roh-roh itu. Amarah puyang juga muncul bila terjadi pelanggaran adat.

Dahulu kala, ada anggapan bahwa ada kelompok masyarakat yang menjalankan ibadah Islam, sholat dan berdoa serta mengikuti norma dan aturan keIslaman lainnya. Kelompok masyarakat itu adalah orang Semendo. Merekalah yang dianggap beribadah dan berdoa untuk dan atas nama orang Pasoemah. Ini menurut Gramberg. Setelah daerah Semendo tercakup ke dalam wilayah Hindia-Belanda, orang Pasoemah kembali menjunjung para Puyang.

(catatan FA: Kemungkinan pengaruh agama Islam menyebar masuk ke Pasoemah dari Palembang melalui daerah Semendo. Bila memang gagasan ini benar, maka ada kemungkinan besar pula bahwa orang Pasoemah pada waktu mengacu pada ulama dan tokoh-tokoh di Semendo untuk mendapatkan pencerahan mengenai agama. Ketika daerah Semendo ditaklukkan Belanda, komunikasi rohani di antara Semendo dan Pasoemah pun terputus. Masuk akal pula bila pada waktu itu, orang Pasoemah kembali mendekat ke kepercayaan tradisionalnya).

Orang Pasoemah tak kekurangan apa pun. Makanan—beras, unggas, kerbau, sayur-mayur dan bebuahan mencukupi kebutuhan mereka. Benda-benda hasil kerajinan yang biasanya dibawa dalam perdagangan dari luar (yang tak ada di Pasoemah) seperti perhiasan-perhiasan emas, pakaian dan perabotan rumah yang mewah tidak tampak di Pasoemah. Di tempat lain, asesoris mewah tampak berlimpah dibandingkan dengan di Pasoemah.

Kaum perempuan Pasoemah mengenakan perhiasan sekedarnya dengan pakaian yang tidak terlalu mewah. Kaum lelaki berpakaian lebih sederhana. Di dalam rumah, biasanya tak banyak perabotan dan kalau pun ada, semuanya teramat sederhana. Rumah-rumah itu sendiri sangat besar dan luas dan biasanya dibangun dari bambu atau kayu. Dusun-dusun mereka meluas dan berkembang dan jalan-jalan dari satu tempat ke tempat lain ada dan terawat dengan baik. Setiap dusun memiliki sebuah bangunan balai yang kokoh.

Kesederhanaan penampilan diri dan penataan rumah Pasoemah mencolok mata. Walau demikian, mereka sangat menyukai persenjataan yang bagus dan indah. Hampir setiap orang memiliki tombak dan keris yang berhias emas dan perak. Orang Pasoemah juga memiliki senjata api yang berjumlah cukup banyak. Setiap dusun memiliki arsenal persenjataan tersendiri. Beberapa dusun juga memiliki meriam. Kalau dijumlahkan, di seluruh daerah Pasoemah terdapat sekitar 1100 senjata api dan 8 buah meriam.

x

Jangan Lewatkan

Lima Abad Sepintas Lalu

Asal-usul penduduk Banka terekam di dalam naskah-naskah kesejarahan di Jawa. Namun demikan, tak ada kejelasan mengenai bagaimana caranya orang dari ...