Home / Headline / Batu Teratai dan Pink Lebong Kian Berkilau

Batu Teratai dan Pink Lebong Kian Berkilau

Batu akik menjadi kiblat baru kesenangan sebagian masyarakat Lubuklinggau. Banyaknya varietas bahan batu akik dari berbagai daerah serta kontes dan pameran batu semakin mendorong para pecinta akik untuk menambah koleksinya.

0404.01.INSERT FOTO KAKI.HASKENDATI bermunculan bahan baru dari daerah dan provinsi tetangga, kecintaan masyarakat Bumi Sebiduk Semare pada kekhasan corak, warna, serta motif batu akik teratai tetap terjaga sampai saat ini. Buktinya, bahan batu yang banyak ditemui di wilayah Kabupaten Musirawas Utara (Muratara) itu masih terus diburu keberadaannya.

Bagi pecinta batu akik, tidak begitu sulit mencari bahan batu teratai. Hampir di sepanjang Jalan Yos Sudarso, Jalan Ahmad Yani, Jalan Garuda, dan sekitar Pasar Inpres banyak ditemui varian batu akik, baik yang sudah diasah maupun bahannya saja.

Soal harganya pun bervariasi tergantung warna dan motifnya. “Kalau warna kuning, orange, dan merah sekarang cukup mudah ditemui. Harga bahannya sekitar 100 ribu-200 ribu per lempeng yang sudah dipotong-potong. Biasanya jual bahannya saja,” kata Atan (25), warga Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu yang bermigrasi berjualan batu akik di bilangan Jalan Kalimantan.

Menurutnya, fenomena batu akik teratai masih tetap terjaga sampai sekarang ini. Hal ini dimungkinkan karena banyaknya ditemukan varian warna dan corak baru dari jenis batu teratai. “Saya juga sering mengirimkan bahan batu teratai kepada pemesan dari daerah lain. Sudah tentu harganya lebih mahal karena dihitung ongkos kirim,” ungkapnya.

Selain jenis batu teratai, sekitar dua bulan terakhir pecinta batu akik dikejutkan dengan adanya penemuan batu akik jenis baru dari Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu. Batu akik berwarna merah jambu yang mirip red borneo asal Kalimantan itu mulai diburu para pegiat batu akik hingga ke daerah asalnya di Kabupaten Lebong.
Tesktur dan warna batu ini sangat memikat pecinta batu akik, khususnya kaum hawa. Bahan dasar batu rubby lebong bewarna merah muda dan hitam. Ketika disenter permukaan dan dalamnya memancarkan warna merah muda.

“Harga bahannya satu kilo 1 juta rupiah. Tapi kalau langsung di tambangnya sekitar 700 ribu rupiah sekilo. Sepengetahuan saya sekarang tambangnya mulai ditutup pemerintah setempat sehingga harga bahan mentahnya semakin melonjak tinggi,” bebernya.

Saat ini, Atan mengaku cukup kesulitan mendapatkan bahan batu akik rubby lebong. “Permintaan bahan dan cincin jadi cukup banyak, tapi bahannya sudah sulit. Selama ini bahannya saya ambil dari keluarga yang ada di Lebong,” ujarnya.

Ferdy (28), salah satu pecinta batu akik di Kota Lubuklinggau, mengaku tertarik dengan batu teratai dan ruby lebong. “Awal melihatnya saya langsung jatuh hati. Saya ingin nanti memiliki koleksinya. Ada juga yang saya kirim untuk keluarga di Palembang,” katanya.

Dia meyakini, fenomena batu akik bakal berlangsung lama, mengingat banyaknya bermunculan bahan-bahan batu akik baru dari daerah-daerah di Indonesia. “Ya, kita harapkan semoga lama musim batunya supaya masyarakat pegiat batu dapat terangkat perekonomiannya. Bukankah ini termasuk ekonomi kreatif yang perlu dikembangkan,” tukasnya.

Sebelumnya, Walikota Lubuklinggau H SN Prana Putra Sohe dalam beberapa kesempatan mengaku akan terus mendorong para pengrajin batu akik di wilayah Kota Lubuklinggau. Menurutnya, fenomena batu akik secara tidak langsung sudah membuka peluang lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat.

“Kita terus lakukan sosialisasi dan menggalakkan batu akik Silampari. Mulai dari sosialisasi di media cetak dan elektronik, sampai membuat event yang mengikutsertakan pengrajin batu akik,” katanya. # frans kurniawan

x

Jangan Lewatkan

UIN Raden Fatah Berduka

Palembang, BP Civitas akademika Universitas Islam Negeri Raden Fatah (UIN RF) Palembang berduka, salah satu dosen terbaiknya Drs. Kailani Mustafa, ...