Home / Headline / April Masih Hujan Mei Mulai Kemarau

April Masih Hujan Mei Mulai Kemarau

Palembang, BP

Kasi Observasi dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) SMB II Palembang, Agus Santosa mengungkapkan, curah hujan pada bulan Februari berkisar 301-400 mm. Sedangkan di bulan Maret, umumnya curah hujan diatas 200 mm. “Analisanya masih dihitung. Setiap wilayah bervariasi,” ujarnya, Selasa (31/03).

Pada April mendatang curah hujan pun diperkirakan masih tinggi, namun pada umumnya curah hujan lebih rendah daripada Maret. Beberapa wilayah yang diperkirakan curah hujannya berkisar antara 400-500 mm adalah sebagian besar wilayah Kabupaten Banyuasin dan sebagian kecil Musi Banyuasin.

Curah hujan di Kota Palembang, Prabumulih Kabupaten OKU Timur, dan Musi Banyuasin berkisar di 300-400 mm. Kisaran curah hujan Kabupaten Musirawas, OKU, OKU Selatan pada 100-300 mm. Sedangkan curah hujan terendah diperkirakan terjadi di Kota Lubuk Linggau, Kabupaten Empat Lawang, dan OKI. Curah terendah bisa mencapai 50-100 mm.

“Semakin ke barat, curah hujan semakin rendah. Hal tersebut dipengruhi oleh kecenderungan uap air yang dibawa angin. Dimana angin barat melemah dibandingkan angin yang datang dari arah timur atau timur laut, yakni dari Samudera Pasifik dan Laut Cina Selatan,” jelas Agus.

Pihaknya terus memantau pergerakan awan dan potensi curah hujan ke depan. Dan untuk tindaklanjut mengenai potensi bencana banjir dan longsor, Pemprov Sumsel dan instansi terkait yang akan menindaklanjutinya. Hingga beberapa hari ke depan, diperkirakan cuaca Sumsel masih akan turun hujan yang bersifat sporadic.

Agus menyampaikan, musim kemarau diperkirakan mulai datang pada dasarian III bulan Mei hingga dasarian I Juni. Hingga awal April, suhu sekitar Sumsel masih hangat diantara 28-30 derajat Celcius, yang mengakibatkan penguapan masih berlangsung untuk pertumbuhan awan hujan.

“Hujan lebat akan terus terjadi hingga awal April. Pada bulan selanjutnya, hujan masih akan terjadi meski intensitasnya tidak terlalu lebat. Sampai Agustus pun diprediksi masih ada hujan,” lanjut Agus.

Ia menyampaikan, perlu dibuat posko pencegahan kebakaran hutan dan lahan di daerah Sumsel bagian timur, khususnya Kabupaten OKI, karena sifat hujan di musim kemaraunya di bawah normal.

Kejadian curah hujan terhitung dalam 30 tahun terakhir, keadaan tertinggi pernah terjadi pada 30 November 1993. Menurut catatan BMKG SMB II Palembang, curah hujan ketika itu mencapai 250 mm. Begitu juga pada tanggal 11 Juli 2002.
Curah hujan yang tinggi juga mempengaruhi kecepatan angin. Pada keadaan ringan, kecepatan angin berada di bawah 17 knots. Bila lebih dari itu, hingga 38 knots dianggap membawa kerusakan ringan. Keadaan akan menjadi parah jika kecepatan angin lebih dari 55 knots.

“Kejadian kecepatan angin terparah terjadi pada 7 September 2001 dan 17 Oktober 2002 hingga 45 knots. Tapi kecepatan angin di Kota Palembang tak pernah lebih dari 55 knots,” sebutnya.

Curah hujan dan angin kencang berpotensi membawa dampak buruk pada manusia, dimana rawan terjadi bencana longsor hingga banjir. Meski kejadian tersebut juga dipengaruhi lingkungan, namun BMKG SMB II Palembang memperingatkan pemerintah untuk bersiaga menghadapi kemungkinan terburuk pada puncak hujan tertinggi di Maret-April nanti.

“Cuaca ekstrem yang perlu diawasi di Sumsel adalah hujan lebat, angin kencang dan puting beliung. Jika curah hujan lebat lebih dari satu hari pada 24 jam berkisar 50-100 mm maka berpotensi banjir atau tanah longsor. Tentu saja faktor lingkungan turut menentukan. Contohnya di Jakarta, walau curah hujan di bawah angka itu namun drainase dan lingkungan yang buruk mempercepat atau memperparah keadaan,” kata Agus.

Kondisi hujan di Sumsel, lanjut Agus, tidak seperti di Jakarta. Walapun hujan yang turun cukup lebat, tetapi aliran airnya langsung menuju parit-parit dan bendungan yang sudah ada. #idzphoto

x

Jangan Lewatkan

Polda Endus Ladang Ganja Lain

Palembang, BP–Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumsel memusnahkan 335 butir ekstasi dan 86,34 gram sabu hasil ungkap dua perkara dengan tiga ...