Home / Headline / Inovasi Eternit dari Pelepah Pisang

Inovasi Eternit dari Pelepah Pisang

Dua siswa SMAN Sumsel menciptakan eternit dari pelepah pisang dan kulit jagung. Lolos uji SNI dan layak dipasarkan. Inspirasinya dari melihat plafon sekolah yang bocor. 

Dua siswa SMAN Sumsel memerlihatkan Eternit yang berasal dari pelepah pisang dan kulit jagung, di SMAN Sumsel, Kamis (203).

Dua siswa SMAN Sumsel memerlihatkan Eternit yang berasal dari pelepah pisang dan kulit jagung, di SMAN Sumsel, Kamis (203). <BP/RIO>

Banyak masyarakat tidak melihat manfaat kulit jagung dan pelepah pisang, bahkan dianggap sampah sehingga biasanya dibuang begitu saja. Padahal jika kreatif, sampah pelepah pisang dan kulit jagung bisa ‘disulap’ menjadi sesuatu yang sangat bernilai dan bermanfaat, seperti eternit (plafon).

Seperti dilakukan dua siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri Sumsel, Agung Pratama dan Ratri Mauluti Larasati, yang memanfaatkan limbah pelepah pisang dan kulit jagung untuk dijadikan eternit. Hasil karya yang dinamai ‘Eternit Anti Bocor Two In One’ ini sebelumnya telah berhasil menjuarai ajang Indonesian Science Project Olympiad (ISPO) 2014 pada 18-20 Februari 2014 di Jakarta dan memperoleh medali emas.

Kedua siswa, yang duduk di bangku kelas XI jurusan IPA, menjelaskan, proses pembuatan ‘Eternit Anti Bocor Two In One’ tersebut sederhana dan cukup menggunakan alat yang bisa ditemukan di rumah. Caranya, terlebih dahulu menghaluskan pelepah pisang dan kulit jagung dengan menggunakan blender untuk dijadikan serbuk halus kemudian dicampur dengan lem PV AC. Setelah itu dalam proses pencampuran harus dicampur sampai rata.

“Selanjutnya memasukkan campuran tersebut ke dalam alat pres plafon dan didiamkan selama satu minggu untuk menunggu proses selanjutnya, yakni melapisi cetakan plafon yang sudah jadi tadi menggunakan lelehan sampah plastik yang berfungsi untuk anti bocor plafon,” katanya ketika dibincangi BeritaPagi, Kamis (20/3).

Mereka juga mengatakan, untuk satu pelepah pisang menghasilkan 10 gram serbuk yang sudah dihaluskan. Jadi, untuk menciptakan plafon yang berukuran satu meter setidaknya menggunakan sekitar 20 pelepah pisang dan sekitar 30 kilogram kulit jagung.

“Dengan inovasi ini kita ingin mencoba membuka mata masyarakat untuk kreatif dan dapat mengolah limbah bekas menjadi bahan yang bermanfaat. Ya kita awalnya terinspirasi karena melihat plafon di sekolah yang sering bocor dan mengeluarkan noda kotor berwarna coklat. Untuk itu, ‘Eternit Anti Bocor Two In One’ ini dilapisi dengan lelehan sampah plastik supaya mencegah kebocoran dan mengeluarkan noda ketika plafon bocor,” urainya.

Dijelaskan mereka, hasil inovasi ini akan dikembangkan dan mengajak masyarakat menengah ke bawah untuk menjadikan inovasi tersebut sebagai industri rumahan. Untuk itu, ke depan mereka berencana akan menghimpun masyarakat untuk menghasilkan produksi ‘Eternit Anti Bocor Two In One’ ini dan akan menjualnya di pasaran dan menembus pasar internasional.

Selain itu, sambung mereka, saat mengikuti kompetisi ISPO beberapa waktu lalu hasil inovasi ini sudah diuji oleh Standar Nasional Indonesia (SNI). Dengan harapan ke depan inovasi ini bermanfaat bagi masyarakat luas.

“Kita berdua sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti kompetisi lanjutan di Turki yang diselenggarakan oleh PASIAD (Pacific Countries Social and Economic Solidarity Association). Kita optimis akan mendapatkan juara lagi dan mengharumkan nama Sumsel,” tuturnya. #rio

 

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Babinsa Sukamulya Sosialisasikan TMMD Ke Gapoktan Marjasuma

Palembang, BP Personel Bintara Pembina Desa (Babinsa) Koramil 418-08/Sako Peltu Dadang Dj melakukan sosialisasi kepada TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ...