Pakaian Adat Palembang Terancam Punah

Palembang, BP

Dari tahun ke tahun, pakaian adat Palembang semakin terlupakan karena sudah sangat jarang dipakai. Pada acara resmi, generasi muda lebih suka mengenakan jas.

Demikian dikatakan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Palembang Mirza Fansyuri usai seminar bertema ‘Mengangkat Kebesaran Pakaian Zaman Kesultanan Darussalam’ di ruang Parameswara, Pemko Palembang, Senin (28/5).

Dia menilai, saat ini pakaian anak-anak muda cenderung ke arah budaya barat. “Kita melihat anak-anak muda sekarang sudah banyak yang melupakan tata cara berpakaian yang sopan, sehingga aurat tidak terjaga,“ kata Mirza.

Untuk kembali melestarikan pakaian adat Palembang yang hampir punah dikikis globalisasi zaman, diperlukan berbagai cara. Pastinya, perlu ditumbukan  kecintaan budaya Palembang Darussalam pada generasi penerus.

“Berpakaian zaman Kesultanan Darussalam haruslah lebih sopan, dengan menutup aurat dan menjauhkan dari hal-hal yang dipandang negatif. Tujuan diselenggarakan seminar ini, agar kita bisa mengingat dan bisa terus lebih melestarikan budaya berpakaian adat Kesultanan Palembang,” ujar dia.

Budayawan Palembang, Kms Anwar Beck, BA mengatakan, dia sangat menyayangkan busana Palembang sudah dilupakan oleh generasi muda zaman sekarang. Kalaupun ada yang memakainya, tidak lagi sesuai dengan adat busana Kesultanan Palembang.

“Misalnya pakaian adat laki-laki tidak sesuai dengan pakaian adat kesultanan, karena dulu untuk laki-laki itu ada kebaya sultan yang terdiri dari kebaya landung dan kebaya pendek. Tapi sekarang laki-laki lebih banyak memilih memakai jas,“ katanya.

Sedangkan Syarifuddin Yusuf, dosen sejarah di Universitas Sriwijaya (Unsri), saat tampil sebagai pembicara, mengatakan, pakaian adat Palembang lebih berkonsep islami. Itu terlihat dari pakaian sehari-hari pada waktu itu, baik untuk laki-laki maupun perempuan. Misalnya baju kemeja bela belo, celana panjang hingga ke lutut yang disebut celana komprang, atau celana panjang sampai mata kaki yang disebut lok chuan (pangsi).

“Kalau untuk laki-laki biasa ditambah dengan penutup kepala. Sedangkan untuk wanita menggunakan tutup kepala (tengkuluk), baju kurung serta kain,” kata dia. /rul