Banjir Besar Mengancam, Penimbunan Rawa Marak

Kayuagung, BP

Penimbunan rawa tanpa tata ruang yang jelas. Ancaman banjir besar bisa menjadi kenyataan.

Penimbunan kawasan rawa-rawa di Kota Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) belakangan ini mulai marak.

Kawasan yang merupakan bekas sawah lebak tersebut, sepertinya akan dijadikan bangunan ruko dan sebagainya. kondisi ini memunculkan keresahan lantaran bisa menimbulkan banjir besar.

Pantauan di lapangan, Kamis (26/4), di beberapa  titik kawasan rawa-rawa yang ditimbun antara di samping jalan protokol, tepatnya di Kelurahan Cinta Raja.

Kemudian,  rawa-rawa di samping Jalur Lintas Timur (Jalintim) dan satu titik lagi akan dibangun masjid refresentatif.

Penimbunan oleh pemilik rawa tersebut sebetulnya hak para pemilik, namun warga yang takut akan terjadi banjir lantaran kawasan resapan air hilang.

Mamat, warga Kota Kayuagung mengatakan, penimbunan rawa-rawa belakangan ini sangat marak, tidak sedikit lahan yang ditimbun, tetapi ada yang mencapai lebih dari satu hektar.

Kondisi ini, menurut dia,  dikhawatirkan akan menyebabkan banjir di perumahan di sekitar timbunan tersebut.

”Rawa-rawa itu tempat air, kalau ditimbun pasti air itu akan lari permukiman masyarakat sekitar sehingga menyebabkan banjir,” ujarnya.

Menurut dia, warga tidak bisa berbuat apa-apa dengan adanya penimbunan rawa-rawa tersebut, karena lahan itu memang hak milik pribadi orang.

Bukan hanya banjir yang ditakurkan masyarakat, tetapi akibat mobil truk yang mengangkut tanah mondar-mandir melewati jalan kota, hingga membuat jalan kota menjadi kotor oleh tanah liat.

“Harus ada upaya dari pemerintah, agar pembangunan di atas lahan rawa-rawa memperhatikan lingkungan. Jangan sampai akibat penimbunan rawa- rawa tersebut maka nantinya akan berakibat banjir,” ucap dia.

Sementara itu, Kepala Bidang Penkajian Dampak Lingkungan Badan Lingkungan Hidup (BLH) OKI Husin Asnawi mengatakan,  penimbunan rawa-rawa untuk didirikan bangunan termasuk dalam pengalihan fungsi lahan.

Menurut  Husin, penimbunan rawa dan pendirian bangunan itu tergantung dengan tata ruang, dalam hal ini diatur oleh Bapeda.

”Jika lokasi rawa-rawa terus ditimbun dan didirikan bangunan baik itu ruko, rumah, dan sebagainya, tentu mengkhawatirkan karena bisa menyebabkan  banjir jika tidak ada tata ruang yang jelas,” ujarnya.

Pembangunan di atas rawa-rawa menurut dia harus memenuhi beberapa syarat, yakni harus ada sumur resapan air, drainase, dan tidak boleh disemen, kemudian harus diperbanyak penghijauan.

”Jika pembangunan tersebut tidak memenuhi sayarat-syarat yang ditentukan, maka tidak akan dikeluarkan izin pembangunannya, kedepan kita akan rancang perda untuk penimbunan rawa, jadi tidak sembarangan orang bisa menimbun rawa-rawa,” tegasnya. /ros