Ketika Rentenir ‘Berbaju’ Koperasi

Rentenir dengan memakai baju koperasi menggurita di OKUT. Pemerintah setempat seolah tutup mata terhadap persoalan serius yang dihadapi pengusaha kecil itu.

SETELAH bekerja di usaha peminjaman uang di Lampung yang disebutnya dengan koperasi, Yudi kemudian melakukan usaha peminjaman keuangan di wilayah Kabupaten OKUT. Dia tidak lagi bekerja pada orang lain, namun melakukan usaha peminjaman sendiri.  Dari uang beberapa juta saja, ia kemudian berhasil mengumpulkan uang sampai puluhan juta rupiah, hanya dalam beberapa tahun.

Usaha peminjaman uangnya secara pribadi, dikemas Yudi dengan nama koperasi. Uang yang ia pinjamkan tidaklah banyak seperti di perbankan, namun hanya ratusan ribu dalam sekali peminjaman.

Setiap hari, ia bergerak dari warung satu ke warung lain, dari ibu rumah tangga satu ke ibu rumah tangga lain. Dia mencari para ibu rumah tangga yang kepepet atau membutuhkan uang. Dengan gaya marketing-nya yang manis, Yudi sudah mempunyai puluhan pelanggan, bahkan mungkin sudah ratusan,

Yudi sangat menguasai wilayah Martapura, Batu Marta, Jayapura, dan sekitarnya. Modal yang hanya beberapa juta saja, kini sudah berkembang menjadi puluhan juta rupiah.

Bukan hanya mencukupi kebutuhan rumah tangga yang dulu hanya pas-pasan, kini ia sudah berhasil membeli tanah untuk membangun rumahnya.

“Sistem peminjaman yang kami usahakan adalah misalnya meminjami uang sebesar Rp100 ribu, nasabah kemudian menerima uang sebesar Rp90 ribu. Kemudian nasabah mengangsurnya selama satu bulan, dengan jumlah Rp120 ribu. Kalau semakin banyak, tinggal melipatkannya saja. Semakin banyak pinjaman, tempo pengembaliannya semakin lama. Tapi penagihannya tetap setiap hari,” kata Yudi kepada BeritaPagi, Selasa (24/4).

Saat ditanya apakah pola peminjaman seperti itu tidak memberatkan nasabah, menurut Yudi, hal tersebut dilakukan suka sama suka oleh mereka. Yudi mengaku tidak pernah melakukan pemaksaan terhadap transaksinya. Sementara bunga peminjaman yang mencapai lebih dari 20 persen dalam setiap bulan, ia berkilah kalau hal tersebut hanya dihitung bila peminjamannya dalam jangka waktu satu bulan saja.

Sementara peminjaman yang ia lakukan, kebanyakan lebih dari satu bulan, tergantung dengan kesepakatan. “Saya meminjamkan uang tidak bunga berbunga. Saya menagih sesuai dengan jumlah peminjaman dan pola pengembalian tetap,” jelasnya.

Menurut Yudi, ada memang oknum tertentu yang meminjamkan uang dengan pola yang mirip dengannya, namun kalau ada keterlambatan pengembalian, utang yang ditanggung bisa berlipat-lipat. Utang yang hanya beberapa ratus ribu saja bisa menjadi puluhan juta rupiah.

“Saya tidak mau menyebutkannya, tidak enak dan bisa membahayakan saya. Ini banyak terjadi di wilayah Belitang dan sekitarnya. Tidak sedikit dari mereka yang menjadi kaya raya dengan pola ini. Bahkan kebun karet saja bisa mereka sita kalau nasabahnya tidak membayar utang,” jelas Yudi.

Sementara itu, Ribut, pengusaha kecil asal Belitang, mengatakan, pola peminjaman uang oleh rentenir sudah seperti menjadi rahasia umum. Usaha ini dilakukan oleh kelompok tertentu yang umumnya memang seperti menghalalkan usaha peminjaman uang atau yang dikenal dengan ‘menggandakan uang’ atau uang beranak.

“Usaha ini dilakukan dengan diam-diam dan dilakukan secara perorangan. Orang-orang sekitar sini tahu siapa saja yang bisa dipinjami dengan sistem ini. Meskipun sangat merugikan masih ada saja yang meminjam kepada mereka,” ungkap Ribut.

Menurut dia, para rentenir ini seperti sengaja menjebak para peminjamnya. Mereka seakan-akan tidak akan menagih utang nasabah. Namun beberapa bulan kemudian mereka menagih dan juga menagih bunganya yang juga berbunga.

“Kalau masalah itu sudah bukan rahasia lagi Pak, namun para rentenir ini seperti tidak ada matinya dan semakin kaya saja,” kata dia.

Peminjam utang yang kebanyakan sudah kepepet sekali atau sedang sekarat ekonominya, seperti menyerahkan diri untuk digantung saat meminjam uang kepada rentenir.

“Kalau punya usaha harus hati-hati dan kuat iman, agar jangan sampai terjebak oleh ulah para rentenir ini. Biasanya pemilik usaha pemula yang suka terjebak oleh mereka karena ingin cepat punya modal besar dan beli ini itu agar dipandang sukses. Mau meminjam uang di bank, kami sungkan. Administrasinya sulit dan hanya sedikit yang bisa menembusnya. Kalau tidak punya agunan mana bisa,” ujar pemilik usaha tahu yang telah puluhan tahun berkecimpung dalam usaha tersebut.

Sulitnya berurusan dengan pihak perbankan, mendorong para pengusaha yang baru belajar tersebut, meminjam kepada rentenir dan akhirnya mereka tidak lepas dari kubangan utang. Tidak sedikit para pengusaha gurem yang mau merintis usaha, malah harus tutup karena terbelit utang.

“Saya sendiri tidak mau berurusan dengan mereka. Saya usahakan agar tidak berutang dalam berusaha,” katanya.

Yudi, Ribut, dan para pengusaha kecil terus berusaha setiap hari. Manis pahit dari sisi hidup mereka akan terus terjadi. Hingar bingar dan gemerlapnya dunia telah mengaburkan nilai-nilai kemanusiaan. Di pasar-pasar tradisional dan di sudut-sudut desa di OKUT, gurita rentenir telah mencengkeram warga.

Sementara pengambil kebijakan juga disibukkan oleh urusan mereka. Sehingga adanya warga yang tercekik oleh gurita rentenir hanya menjadi cerita kilasan saja. /mohamad masrur