Harga Bensin Melambung, Warga Pelosok Mengeluh

Muaraenim, BP

Keputusan pedagang eceran menaikkan harga BBM, memukul ekonomi warga yang hidup di pelosok.

Gonjang-ganjing bakal naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) oleh pemerintah pusat mulai 1 April lalu, benar-benar menyengsarakan masyarakat yang berada di pelosok desa di Kabupaten Muaraenim.

Bagaimana tidak, meski pemerintah batal menaikkan harga bensin dan solar, namun pedagang eceran sudah lebih dahulu menaikkan harga berkisar Rp8.500 hingga Rp9.000 per liter.

Melambungnya harga BBM terjadi hampir terjadi di seluruh Kecamatan Semende Darat Laut, Semende Darat Tengah, dan Kecamatan Semende Darat Laut.

Di tiga kecamatan itu, harga BBM di pangkalan minyak maupun kios-kios kecil sulit dijangkau warga setempat.

Muhammad Hanif, salah seorang warga Semende, Rabu (25/4), mengaku, harga bensin mencapai Rp8.500, sedangkan di beberapa kios kecil harganya mencapai Rp9.000 per liter.

Menurut dia, naiknya harga BBM sudah  berlangsung sejak hebohnya rencana kenaikan BBM pada Maret lalu.

“Pedagang eceran sudah lebih dahulu menaikkan harga BBM yang sebelumnya Ro6.500 per liter. Meski akhirnya kenaikan BBM tersebut batal, namun  harga bensin di pelosok tetap tidak turun,” cetusnya.

Dikatakannya, lantaran  BBM sangat dibutuhkan warga untuk keperluan sepeda motor, warga dengan terpaksa tetap membeli bensin.

“Kita tidak bisa protes sebab karena penjualnya beralasaan mereka ambil di SPBU  juga sudah tinggi, sehingga warga hanya bias pasrah dan menerima saja kenaikan harga BBM,” ucap dia. /nur