1,5% Remaja Sumsel Pengguna Narkoba

Palembang, BP

Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerjasama dengan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (UI) mencatat sebanyak 1,5% remaja usia produktif di Sumatera Selatan (Sumsel) diindikasikan sebagai pengguna narkoba. Kondisi ini dinilai mengalami penurunan karena sebelumnya 1,8% dari jumlah penduduk Sumsel mencapai 7,2 juta.

Meskipun mengalami penurunan, dikatakan Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan BNN Pusat Kombes Pol Endang Mulyani, pada acara Sosialisasi Hasil Penelitian BNN tahun 2011 yang diselenggarakan di Balairung Srikandi Hotel Sandjaja Palembang, Selasa (24/4), persentase tersebut dikategorikan tetap waspada dan perlu koordinasi dari setiap instansi maupun lini terdekat dari kaum remaja yang tergolong rentan mengonsumi narkoba.

Dalam kegiatan sosialisasi yang diikuti guru, mahasiswa, pelajar dan instansi pemerintah daerah Provinsi Sumsel serta perwakilan pemerintah kabupaten/kota dan instansi terkait lainnya diharapkan mampu mensosialisakan tanggung jawab semua pihak terhadap generasi penerus bangsa dan bukan hanya tugas BNN ataupun polisi saja.

“Penanggulangan terhadap penyalahgunaan narkoba ini bukan hanya tugas pemerintah, Polri ataupun BNN saja. Ayo kita perangi dan kerja sama untuk menggelorakan bahaya narkoba itu sendiri, karena ini tanggung jawab kita semua,” ujar Endang

Sementara itu, Amry Ismai peneliti pada Pusat Penelitian Kesehatan UI yang menjadi pembicara dalam kesempatan tersebut menyampaikan pelajar dan mahasiswa tergolong rentan menggunakan narkoba, demikian juga dengan pekerja yang awalnya hanya ingin coba-coba dan kemudian menjadi rutinitas hingga menjadi kecanduan.

“Awalnya kaum ini hanya coba-coba yang ditawarkan temannya karena gratis, namun setelah sudah lebih dari lima kali pakai itu bukan tergolong coba-coba lagi, itu sudah tergolong ketagihan, serta berujung pada kecanduan. Apalagi sudah menggunakan jarum suntik maka akan lebih berbahaya lagi,” terang Amry.

Dikatakannya, usia produktif baik laki-laki maupun perempuan yang secara persentasi untuk pria 57,7% dan wanita 42,3%. Sementara itu, dari 33 Provinsi di Indonesia, hanya 15 daerah prevelensinya menurun termasuk Sumsel, sementara Jawa Timur relatif stabil, sedangkan sisanya mengalami kenaikan.

“Meski penurunan yang terjadi, namun kerawanan penyalahgunaan narkoba di daerah ini tetap tinggi. Untuk itu, perlu adanya kerjasama antara semua pihak baik keluarga, instansi dan pihak sekolah atau perguruan tinggi,” ucapnya.

Untuk penelitian ini disampaikannya, dilakukan secara random, seperti di Susmel diambil dari dua kabupaten/kota yakni Palembang dan Lahat. “Namun kita yakin, dari hasil itu bisa menjadi barometer akan jumlah penyalahgunaan narkoba di daerah ini,”jelasnya.

Lanjutnya, angka yang didapat hasil penelitian tersebut untuk kalangan pelajar masih coba-coba sementara bagi mereka (penyalahgunaan narkoba) mahasiswa dan pekerja, kebanyakan sebagai pecandu atau mengalami ketergantungan dengan kandungan zat pada narkoba. Sementara tren penyalahgunaan narkoba di Sumsel tergolong lebih banyak jenis ganja menyusul shabu dan ekstasi.

“Untuk penyalahgunaan narkoba jenis ganja cukup tinggi, karena memang selain mudah untuk mendapatkannya juga harga yang relatif murah dibandingkan narkoba jenis lainnya dan ini biasanya dilakukan remaja yang sudah bosan merokok,” ujarnya.

Dalam kesempatan ini, pihaknya juga mengimbau dalam mencegah penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja/pelajar bahwa keluarga sangat berperan aktif. Orang tua harus dapat mengenali narkoba dan alat yang digunakan dalam penyalahgunaan narkoba, sekaligus membangun komunikasi dengan baik terhadap anak.

“Jangan sampai, aktifitas keseharian anak tidak tahu begitu juga dengan jenis-jenis narkoba serta alat yang berkenaan dengan penyalahgunaan narkoba. Selain itu, untuk lembaga pendidikan juga perlu selalu mensosialisasikan akan bahaya narkoba dan membuat aktifitas ekstrakurikuler yang bisa meningkatkan kreatifitas bagi siswa akan hal positif,” pungkasnya. /ren