Warga Bakar ‘Camp’ PT SAL

Sekayu, BP

Amuk massa yang sejak awal memang sudah dicemaskan, akhirnya terjadi juga. Sedikitnya 40 warga mendatangi dan membakar camp PT Sawit Agro Lestari (SAL)  yang berada di Desa Ngunang, Kecamatan Sanga Desa, Kabupaten Muba, Minggu (22/4) sekitar 10.30.

Massa yang datang berbondong-bondong  tersebut, awalnya menuntut ganti rugi lahan yang diklaim warga sudah ditanami kelapa sawit. Karena kecewa tidak mendapat kejelasan, warga mengambil jalan pintas dengan mengamuk di camp PT SAL.

Massa juga menyasar  dan membakar sebuah rumah pondok terbuat dari kayu yang dijadikan camp PT SAL. Dua unit mobil perusahaan yakni mobil L200 Estrada dan Jimny Katana yang diparkir dekat camp tersebut, juga tak luput dari amukan massa.

Warga yang sudah membabi buta terus merusak mobil dengan melemparkan batu. Mereka melempari mobil  dengan kayu lalu menggulingkannya.

Belum puas, mereka lalu membakar mobil itu bersama-sama. Untung saja, dalam kejadian itu tidak menimbulkan korban jiwa.

Karyawan perusahaan melihat kedatangan puluhan warga yang beringas, terlebih dahulu sudah mengambil langkah seribu menyelamatkan diri.

Kapolres Muba, AKBP Toto Wibowo melalui Kasat Reskrim, AKP Maruli Pardede didampingi Kapolsek Sanga Desa, Iptu Kodruddin, membenarkan, telah terjadi aksi brutal kelompok warga yang mendatangi dan membakar camp di tengah hutan milik PT SAL.

“Masih terus kita dalami masalah ini, dengan memeriksa sejumlah saksi,” kata Toto, Senin (23/4).

Lokasi yang ditengarai menjadi tuntutan warga adalah di wilayah perbatasan, antara Kabupaten Muba dan Musirawas. Tepatnya di Desa Ngunang. Untuk menuju lokasi tersebut terlebih dahulu harus melewati Kabupaten Musirawas.

Aksi massa, jelas Kapolsek, diduga dilakukan kelompok Batu Putih warga Desa Ngunang, Sanga Desa, yang meminta ganti rugi lahan yang telah ditanami sawit seluas 30 hektar. “Dari PT SAL mengaku sudah membayar ganti 50 persen dan warga menuntut 50 persen lagi,” katanya.

Warga juga menilai, pihak PT SAL tidak memiliki izin sehingga warga bersikeras dengan tuntutan mereka. Upaya warga menuntut ganti rugi terus dilakukan sejak seminggu lalu, tapi dapat dimediasi.

Karena pihak perusahaan tidak kunjung memberikan kejelasan,  warga kecewa dan marah.

Sedangkan dari PT SAL mengalami kesulitan mengganti rugi karena lahan yang diakui warga itu, juga diakui oleh warga Pauh, Musirawas.  Sehingga kepemillikan menjadi tumpang tindih dan perusahaan baru membayar 50 persen.

“Kalau dari pihak perusahaan bersikeras agar terlebih dahulu lahan tersebut dilakukan pengukuran tapal batas. Sehingga jelas lahan masuk wilayah mana,” ujar Kapolsek.

Dengan kejadian itu, diperkirakan kerugian perusahaan mencapai sekitar Rp800 juta. /arf