Rawat Pasien Pakai Kebaya

Palembang,BP

Pemandangan yang tak biasa dipertontonkan beberapa dokter dan perawat yang bekerja di Rumah sakit Mohammad Hoesin Palembang, Sabtu (21/4), mereka merawat pasien dengan mengenakan kebaya.

Sebut saja seperti di ruang bedah, dua orang perawat dengan cekatan melakukan tindakan penanganan kepada pasien yang mengalami luka bakar akibat kompor meledak.Luka bakar di sekujur tubuh pasien ini, mendapatkan perawatan yang intensip dari dua orang perawat.

Perawat maupun dokter yang mengenakan kebaya saat merawat pasien ini dalam rangka memperingati hari Kartini ini. Selama merawat pasien, meski mengenakan kebaya, perawat dan dokter ini sama sekali tidak terlihat kesulitan.

Tanpa terkecuali baik itu dokter atau perawat yang bekerja di RSMH Palembang ini mengenakan kebaya diseluruh ruang.

“Kita memang sengaja memakai kebaya, sebab memperingati hari Kartini,” kata Ketua Bidang Peningkatan Pemberdayaan Perempuan Korpri RSMH Palembang Nur Aryati SKp Mkes, Sabtu (21/4).

RSMH berharap, baik dokter atau perawat dapat mengenang kembali jasa ibu Kartini dalam kehidupan yang dicapai mereka saat ini.

“Kita tak mungkin bisa seperti sekarang, bekerja dan juga tak melupakan kewajiban sebagai seorang wanita, bila tidak ada jasa ibu Kartini,” ujarnya.

Oleh sebab itulah, tenaga kesehatan dan medis mencoba mengenang masa itu, dan sekaligus menujukkan kepada pasien bila hari Sabtu (21/4) adalah hari Kartini.

Bila disemua ruangan BeritaPagi dijumpai dokter dan perawat berpakaian kebaya saat merawat pasien. Di Aula RSMH terlihat kerumunan wanita dengan pakaian seakan-akan hendak kondangan.
Ternyata wanita-wanita ini sedang unjuk kebolehan dalam perlombaan busana kebaya.

“Ini juga adalah salah satu acara peringatan hari Kartini, selain itu juga ada penyerahan bingkisan kepada pasien kelas III, dan tanggal 25 April mendatang kita akan kunjungan ke panti asuhan,” jelasnya.

Dalam perlombaan kebaya ini, uniknya setiap ruangan tidak hanya mengutus para wakilnya yang masih berumur muda. Akan tetapi, banyak sekali mereka yang berumur pralansia mengikuti perlombaan.

Hal ini membuktikan, di hari Kartini ini mereka tak sungkan-sungkan untuk tampil diperlombaan yang sebenarnya hampir menjadi milik mereka yang berusia muda.

Akan tetapi, mereka masih mau berkontribusi dan mengenang hari Kartini dengan ikut serta dalam perlombaan busana kebayak tersebut.

Direktur Umum dan SDM RSMH Palembang, Dr dr HM Alsen Arlan SpB-K menambahkan, RSMH memiliki 80 persen perawat wanita, dan dokter 30-40 persen. Mereka ini banyak juga yang memegang peranan penting di dalam rumah sakit.

“Kini di hari Kartini, mereka tak melupakan hari bersejarah ini, sehingga berbagai peringatan dilakukan,” jelasnya.

Saat disinggung apakah ada perbedaan antara wanita dan pria dalam melayani pasien?, dokter Alsen yang juga menjabat Ketua IDI Sumsel ini mengatakan, berdasarakan standar pelayanan kesehatan seharusnya tidak ada dan memang tidak boleh ada.

“Tapi, paling hanya kelembutan saja, kalau keramah-tamahan sama dan memang harus sama dalam semua hal, sebab standar layanan sama,” ungkapnya. /zal