Pengamen Dibunuh di Bus Kota

Palembang, BP

Seorang pengamen dibunuh di dalam bus kota. Usai dihabisi, jasad korban dilemparkan keluar bus. Polisi masih memburu pelakunya.

Tragis dialami Alamsyah (22), warga Jalan Anggrek, Ogan Permata Indah (OPI) Lorong Jati 1 RT 45, Kelurahan 15 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu (SU) I.

Pemuda yang keseharian pengamen ini ditemukan tewas bersimbah darah di Jalan Gubernur H Bastari, dekat rambu-rambu lalulintas pinggir trotoar depan Masjid Alfathul Akbar dengan luka tusuk di dada kanannya. Korban diduga telah ditusuk di dalam bus kota jurusan Plaju-KM 12 saat melintas dari arah Jalan A Yani menuju jembatan Ampera, Minggu (22/4) pukul 18.30.

Kapolresta Palembang Kombes Pol Sabaruddin Ginting, SIk melalui Kapolsek SU I Kompol Imam Tarmudi, SIk, MH didampingi Kanit Reskrim Iptu AK Sembiring membenarkan korban ditemukan bersimbah darah di lokasi kejadian. Kemudian korban yang mengalami luka tusuk dilarikan  ke Rumah Sakit Mohammad Hosein (RSMH) oleh pihak keluarga. Namun korban meninggal beberapa jam setelah perawatan dokter.

“Korban ditemukan bersimbah darah di lokasi dan meninggal di RSMH. Pihak kepolisian SU I dan dibantu Polresta sudah mendatangi TKP, dari keterangan saksi tidak ada yang mengetahui persis kejadian, tiba-tiba saja korban ditemukan bersimbah darah di pinggir jalan dekat masjid,” jelas Sembiring

Lebih lanjut menurutnya, saat ini pihak kepolisian sedang melakukan penyelidikan terhadap motif tewasnya korban. “Secara resmi keluarga korban belum melaporkan kejadian, mungkin masih dalam suasana berduka. Namun, kita akan terus upayakan pengejaran pelaku, secepatnya kita akan ungkap perkara ini,” tegasnya.

Dikatakan Sembiring, saat ini petugas sedang mendalami perkara ini dengan berkoordinasi dengan pihak keluarga dan saksi mata. Terkait tewasnya korban belum bisa diberikan keterangan terhadap siapa pelaku dan motifnya.

“Untuk sementara saksi baru dua orang yang diperiksa yaitu Opin Apriansyah (26), warga Jalan A Yani, Gang Gading, Kelurahan 7 Ulu dan Pariyal (21), warga Perum OPI Kelurahan 15 Ulu, Kecamatan SU I. Namun ini bukan saksi yang melihat persis kejadian, mereka menemukan korban sudah bersimbah darah di lokasi kejadian, jadi belum bisa memberikan keterangan yang menjurus ke arah siapa pelaku,” lanjut Sembiring.

Dari informasi di tempat kejadian, korban diketahui diturunkan dari bus yang sedang melaju di TKP. Berbondong-bondong warga sekitar melihat kondisi korban yang bersimbah darah namun korban diketahui masih hidup dan langsung dilarikan teman dan keluarga korban ke RS Muhammadiyah.

Korban mengalami luka tusuk dan menderita luka lembam di sekujur mukanya. Korban kemudian diturunkan dari bus begitu saja.

Santi (35), warga sekitar menjelaskan, beberapa saat usai azan maghrib ada seseorang yang mengalami luka tusuk terkapar di bawah tiang rambu-rambu. Saat dilihat ternyata korban yang sering mengamen di seputaran Simpang eks Rumah Makan Pamor, warga kemudian memberi tahu keluarga korban dan dibawa ke rumah sakit.

“Dia (korban) beberapa kali belanja di warung saya, saya tidak tahu persisnya kejadian, tapi benar kalau korban sering ngamen di sini,” jelas Santi.

Demikian dengan Budi (20) yang merupakan pengamen di sekitar lokasi. Menurutnya, dirinya kenal baik korban. “Korban mengamen lewat orasi, dia seorang yang mandiri. Dia biasa mulai kerja pukul 09.00 sampai pukul 19.00. Saya juga tidak menyangka kalau korban tewas ditusuk,” jelas Budi yang dibenarkan Agus (19) yang juga teman korban.

Ditemui di rumah duka, ayah korban Dolly (54) dan ibu korban Maysun (47) masih terlihat syok atas kejadian yang menimpa anaknya ke tiga dari empat bersaudara tersebut. Mereka juga membenarkan kalau belum melaporkan kejadian kepada pihak yang berwajib.

Menurut Maysun, kalau korban pergi meninggalkan rumah sejak Jum’at (20/4) dan baru diketahui keberadaannya ketika dirawat di RS Muhammadiyah dan dirujuk ke RSMH kemudian meninggal sekitar pukul 20.20. Pihak keluarga menuju rumah sakit ketika mendapat info dari kakaknya yang pergi ke lokasi kejadian.

“Saya sempat menanyakan kalau dirinya ditusuk siapa. Anak saya (korban) mengatakan ‘opet’ sebanyak kurang lebih empat kali. Mungkin dia ditusuk oleh pencopet, tapi itu masih tidak jelas lantaran korban dalam kondisi yang masih lemas,” kata Maysun.

Demikian dengan Dolly ayah korban. Dia menuturkan kalau korban merupakan anak yang mandiri dan tidak menyusahkan pihak keluarga. “Dia memang sering pergi berhari-hari, namun dia tidak menyusahkan orang tua, paling minta uang Rp10 ribu untuk mencari uang untuk keperluannya sendiri dengan mengamen,” jelas Dolly

Dikatakan ayahnya, jika korban terakhir meninggalkan rumah tidak menggunakan sepeda motor. Biasanya korban menggunakan sepeda motor untuk pergi dan kembali pulang sehari sesudah pergi. /ren