BBM Kian Langka, Antrean Sudah Meresahkan

Martapura, BP
Pengisian BBM di SPBU dipersulit. Di sisi lain pedagang eceran sesuka hati menetapkan harga.

Meski rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) sudah dibatalkan pemerintah pusat, antrean kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) sudah dalam taraf meresahkan.

Selain penjual BBM eceran semakin menjamur di sekitar SPBU,  tidak adanya  tindakan dari pemerintah daerah, membuat BBM kian langka.

Sebelumnya, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten OKUT berjanji akan menjatuhkan sanksi kepada pengecer BBM yang menjual harga di atas harga eceran tertinggi berkisar Rp6.000-Rp6.500 per liter, namun sampai sekarang tak teralisasi.

“SPBU di OKUTini lebih dari lima buah, namun semuanya tidak ada yang memiliki pelayanan maksimal. Konsumen harus mengantre berjam-jam untuk mendapatkan BBM. Sementara di tingkat pengecer harga BBM semakin tinggi,” ungkap Febri (23), warga asal Martapura, Minggu (21/4).

Menurut Febri, setiap harinya dia terpaksa membeli BBM kepada pengecer dengan harga Rp7.000 hingga Rp7.500 per liter. Menurutnya harga tersebut sangat jauh dari HET di SPBU yang hanya Rp4.500 per liter.

“Penjual eceran menaikkan harga BBM seenaknya saja. mereka tidak memperhatikan kebutuhan konsumen. Sebenarnya kesalahannya ada pada SPBU yang membiarkan antrean terus memanjang setiap hari. Sehingga pembeli terpaksa membeli BBM dengan pengecer berapapun harganya,” ujarnya.

Sementara Mak Ijah, salah satu pengecer di Martapura mengaku, membeli BBM dari sejumlah sopir yang membeli menggunakan mobil dengan harga Rp6.000 hingga Rp6.500 per liternya.

“Kalau saya jual dibawah itu saya yang akan rugi. Lagipula bensin ini adalah kebutuhan mutlak yang tentunya akan dicari pengendara berapapun harganya. Jadi selama saya tidak rugi meskipun dengan harga tinggi, saya tetap akan membeli dari pengecer,” katanya enteng. /mas