Alex Noerdin Peduli Film Nasional, Siapkan Film Kolosal Sriwijaya

Jakarta, BP

Film ‘Pengejar Angin’ yang mengambil setting keindahan alam Sumatera Selatan, kembali mendapatkan penghargaan dari insan perfilman di Tanah Air. Setelah meraih Piala Citra pada Festival Film Indonesia 2011 lalu, kali ini film yang digarap oleh Pemprov Sumsel bekerja sama dengan Putaar Production ini, meraih nominasi terbanyak pada Festival Film Bandung yang digelar 12 Mei mendatang.

Sutradara film ‘Pengejar Angin’, Hanung Bramantyo, Senin (23/4), menjelaskan, kesuksesan film yang dibesutnya tersebut berkat dukungan penuh dari seluruh masyarakat Sumsel. “Apresiasi dan penghargaan juga kami berikan kepada bapak Gubernur Sumsel H Alex Noerdin. Jarang ada pejabat atau pimpinan yang memiliki kepedulian untuk membuat sebuah produk kebudayaan,” kata Hanung, di Jakarta.

Menurut Hanung, sejauh ini respon masyarakat terhadap film ‘Pengejar Angin’ sangatlah tinggi. “Memang untuk di kelas Cinema 21 belum sesuai harapan kami, tapi yang cukup mengagetkan kami adalah antusias masyarakat di bioskop-bioskop rakyat dan justru di luar Sumsel,” ujar Hanung.

Film yang juga dibuat untuk menyambut pelaksanaan SEA Games XXVI lalu ini, dinilai berhasil mematahkan anggapan bahwa film yang menggunakan bahasa daerah tidak bisa bersaing. “Kami memutarnya di Blora, Temanggung, Brebes dan berbarengan dengan film ‘Tendangan Dari Langit’. Film ‘Pengejar Angin’ mendapatkan respon yang lebih baik. Padahal selama ini ada kekhawatiram film yang tidak menggunakan bahasa Indonesia atau tidak bahasa Jakarta, tidak mungkin laku,” urainya.

Dalam waktu dekat, lanjut Hanung, pihaknya juga sudah mendapatkan permintaan dari daerah lain, seperti Bangka dan Kepulauan Riau, agar film ‘Pengejar Angin’ juga dapat diputar secara massal di daerah itu.

Hanung mengaku, kesuksesan film ‘Pengejar Angin’ juga membuat dirinya tertantang untuk kembali membuat film daerah yang berlatar belakang kebudayaan Sumsel. “Semua orang tahu bahwa Sumsel merupakan pusat salah satu kerajaan besar di Indonesia yakni Sriwijaya. Sekarang kami masih mengadakan riset dan penelitian, namun bentuknya nanti adalah film kolosal dan kembali melibatkan masyarakat Sumsel,” bebernya.

Jika saat pembuatan film ‘Pengejar Angin’ pihaknya masih menggunakan separuh tenaga profesional dari Jakarta, maka di film kedua nanti porsi untuk seniman daerah Sumsel akan lebih diperbanyak. “Dalam waktu dekat kami akan berkumpul dengan seniman Sumsel untuk membahas persiapan film ini, kami juga akan melibatkan sanggar-sanggar serta teater di Sumsel,” pungkasnya.

Gubernur Sumsel H Alex Noerdin pun menyambut baik keberhasilan film ‘Pengejar Angin’ dan menyatakan dukungannya untuk kemajuan film nasional. “Saya berharap film Indonesia mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Tentunya film yang ditampilkan haruslah berkualitas,” jelas Alex.

Calon Gubernur DKI Jakarta dari Partai Golkar ini menjelaskan, dirinya sengaja meminta Hanung Bramantyo untuk membuat sebuah film yang menonjolkan kebudayaan Sumsel dan berisi kearifan lokal. “Piala Citra yang sudah diraih semoga menjadi pemacu bagi kami untuk terus menghasilkan karya seni yang berkualitas. Banyak yang bertanya di mana lokasi film tersebut, karena memang sangat indah namun memang belum pernah terekspos secara maksimal. Lokasinya di Semendo, Lahat yang memang jarang dikunjungi wisatawan, saya berharap di film-film berikutnya potensi wisata Sumsel yang lainnya juga mampu diperkenalkan,” harap Alex.

Mathias Muchus, yang meraih penghargaan Piala Citra untuk kategori pemeran pembantu pria terbaik dalam Festival Film Indonesia 2011 melalui film ‘Pengejar Angin’, menyatakan, masyarakat Sumsellah yang berhak mendapatkan gelar bergengsi tersebut. “Piala Citra ini lebih layak diterima oleh Bapak Gubernur Sumsel H Alex Noerdin, seorang figur pejabat yang bersih, tanpa basa-basi, dan sangat peduli serta mengerti bahwa seni dan kebudayaan memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari,” puji Mathias. /nto