Perlu Dukungan Orangtua dan Guru

 Siswa yang tidak lulus dalam Ujian Nasional (UN) perlu mendapat dukungan moril dari orangtua dan gurunya. Jadi siswa tersebut harus disupport secara psikologis dan jangan dimarahi. Bila perlu harus ditanamkan kepada mereka, bahwa kegagalan dalam UN merupakan salah satu jalan untuk menuju kesuksesan.

 

Palembang, BP

Hal tersebut diungkapkan psikolog asal Palembang Telly P Zaidan, saat diwawancarai BeritaPagi, baru-baru ini. “Orangtua yang memarahi anaknya yang tidak lulus UN merupakan salah besar. Anak sudah cukup terpukul secara psikologis karena kegagalannya, jangan ditambah lagi beban mereka dengan kemarahan orangtua. Justru ini akan membuat mereka semakin patah semangat,” kata dosen Akademi Kebidanan di Jalan Bambang Utoyo ini.

Dikatakan Telly, siapa lagi yang akan mendukung siswa yang tidak lulus UN kalau bukan orang terdekatnya, yakni orangtua ketika di rumah dan guru saat berada di sekolah. Orangtua dan guru juga sebaiknya tidak menghakimi siswa yang tidak lulus UN sebagai anak yang tidak sukses. Apalagi kesuksesan yang sesungguhnya juga tidak semata hanya dari bidang akademik, tetapi bisa juga dari bidang lain yang dikuasai anak.

Banyak pilihan yang bisa dilakukan siswa yang gagal UN, bisa dengan mengikuti kesetaraan (paket C) atau mengulang di tahun depan. Jika tidak bisa meneruskan di bidang akademik, siswa tadi bisa mengembangkan bakat dan kemampuan yang dimiliki, misal melukis, berwirausaha (entrepreneur), atau memilih jenis sekolah lain yang lebih sesuai dengan pribadi anak. Belakangan, tren homeschooling juga sudah mulai masuk kota Palembang.

Sebab itu, sebaiknya sekolah juga membekali siswanya dengan kewirausahaan sehingga siswa bisa berpikir dengan gagal UN berarti dunia kiamat, tetapi mindset bisa dirubah setelah lulus sekolah mereka bisa menciptakan lapangan pekerjaan. Dengan begitu, mereka tidak terpaku hanya untuk mendapatkan nilai-nilai yang bagus demi bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi atau bisa melamar pekerjaan.

Telly juga membuka cakrawala siswa, betapa banyak orang yang sukses di luar sana karena keahlian di luar bidang akademik. Misal, mereka membuka restoran dengan menu makanan dan cita rasa yang khas atau bidang lainnya. Contoh yang paling ekstrim adalah pengusaha terkenal, nyentrik, dan kaya raya Bob Sadino selalu mengedepankan kesuksesan tidak mesti lewat bangku sekolah, tetapi melalui jiwa entrepreneur. Mindset seperti inilah yang harus dimiliki oleh pelajar, jadi tidak menjadikan UN sebagai satu-satunya jalan menuju kesuksesan.

Hal ini juga diungkapkan oleh Direktur Primagama Homeschooling Palembang Prof Dr Ir Hazairin bahwa seharusnya entrepreneur itu sudah diajarkan sejak masih kanak-kanak atau di bawah lima tahun sehingga jiwa wirausahanya tumbuh.

Tapi kenyataannya justru pendidikan sekarang malah mengajarkan kewirausahaan setelah duduk di bangku kuliah. Tentu saja, ini sudah sulit karena saat kuliah itu sudah terbentuk mindset yang sulit untuk diubah. “Kenapa entrepreneur ini harus dikenalkan sejak dini agar siswa tidak mudah putus asa, apalagi jika hanya sekadar gagal menghadapi kegagalan UN. Mereka bisa banting setir dengan membuka usaha atau apa saja untuk menunjukkan eksistensi diri,” katanya.

‘Homeschooling’ Bisa Jadi Alternatif

Bagi siswa tidak lulus UN yang merasa malu dengan lingkungan sekolahnya maka homeschooling bisa jadi salah satu alternatif pilihannya. Dalam program homeschooling siswa yang tidak lulus bisa belajar lagi dengan semangat baru dan lingkungan yang berbeda dari sebelumnya. Meskipun harus mengulang kembali pelajaran selama satu tahun untuk mengikuti UN tahun depan, tetapi mungkin dengan homeschooling siswa bisa leih enjoy tanpa terbebani dengan rasa malu akibat tidak lulus UN.

Pasalnya, siswa yang memilih homeschooling ini diberi kebebasan untuk memilih sendiri tempat belajarnya, apakah di rumah sendiri atau di tempat homeschooling itu berdiri. “Selain mengasah kemampuan akademik, pendidikan kami juga menekankan untuk mendorong bakat dan kemampuan siswa. Intinya kami melakukan pendekatan personal dan emosional kepada para siswa,” kata Hazairin.

Dengan begitu, kata mantan Rektor Universitas Tridinanti dua periode ini, siswa yang tidak lulus UN dapat tumbuh kembali rasa percaya dirinya dan semangat untuk mengikuti UN pada tahun berikutnya. Selain itu, dengan mengasah dan mendorong bakat dan kemampuan siswa dalam homeschooling ini dapat merubah mindset bahwa gagal dalam UN bukan berarti mereka tidak dapat berprestasi di kemudian hari, yang tentu saja bukan hanya di bidang akademik.

Misal, mereka memiliki bakat fotography maka akan mendorong mereka untuk mendalami bakat tersebut sehingga nantinya bisa menjadi fotografer profesional dan menjadi bekal hidup mereka kelak. Hal seperti ini, belum tentu bisa diperoleh di sekolah konvensional. Memang di sekolah konvensional, ada guru pembimbing tetapi tidak dapat maksimal memperhatikan anak secara detail satu per satu. Untuk satu guru homeschooling, tidak boleh memegang lebih dari lima siswa.

Siswa homeschooling ini juga bukan berarti tidak bersosialisasi, tetapi ada pada hari-hari tertentu dalam sepekannya mereka belajar bersama di tempat homeschooling dengan siswa homeschooling lainnya.

Setelah mengikuti proses belajar selama satu tahun, ketika memasuki masa UN maka siswa homeschooling ini dapat mengikuti UN sama halnya dengan siswa di sekolah konvesional. Mereka dapat mengikuti UN melalui sekolah payung atau sekolah yang dirujuk homeschooling, misal kalau di Palembang adalah Xaverius atau Taman Siswa.

Sementara itu, guru kesiswaan SMA Aisyiyah Palembang Syahruan Effendi mengaku sebagai guru sudah mendidik secara maksimal siswa-siswinya sejak kelas I. Bahkan ketika menjelang UN sejak Desember 2011 lalu mereka sudah dibekali dengan empat kali mengikuti try out yang digelar oleh pihak sekolah. “Sebagai pendidik, kami mengharapkan siswa bisa lulus seratus persen karena kami sudah membekali mereka secara maksimal,” kata dia.

Tetapi, jika ternyata nantinya ada yang tidak lulus sebenarnya itu sudah menjadi nasib mereka. Dan terpaksa harus mengikuti belajar lagi selama satu tahun untuk mengulang ujian tahun depan. “Kami tetap memberikan dukungan dan berdoa agar seluruh siswa dapat lulus semua sama seperti tahun lalu,” ujarnya penuh harap.

Harap-Harap Cemas (H2C)

Sama halnya dengan sang guru, hampir seluruh murid SMA kelas III usai melaksanakan UN merasa cemas akan hasil UN yang rencananya akan diumumkan pada akhir Mei 2012 ini. Seperti yang dialami oleh Prisca Leanarni dan Sandi Prasaja kelas XII SMA Kusuma Bangsa (Kumbang) yang mengaku sudah lega mengikuti UN, tetapi masih cemas karena menunggu pengumuman pada akhir bulan Mei 2012 nanti.

Kedua siswa dan siswi yang aktif di organisasi siswa intra sekolah (osis) ini mengaku mata pelajaran matematika memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi dibandingkan dengan mata pelajaran lainnya yang diujikan. Jadi, meskipun kedua siswa ini masuk dalam ranking sepuluh besar di kelasnya dan sekolah yang cukup bergengsi, tapi tetap saja merasa galau menunggu hasil pengumuman nanti.

“Pokoknya kami belum merasa tenang jika hasil UN belum diumumkan. Sebab itu, usai UN sekarang yang bisa dilakukan selain refreshing juga banyak berdoa agar bisa lulus dengan nilai yang memuaskan,” kata Prisca yang diamini oleh Sandi.

Lain lagi yang dialami Apriyeni, kelas III Administrasi Perkantoran SMK 5 Palembang di Jalan Demang Lebar Daun mengaku, turun berat badan sampai empat kilogram saat menghadapi UN. “Sejak bulan Maret, berat badan saya turun berangsur-angsur bahkan kondisi badan sempat drop, flu dan demam. Hal ini terjadi karena saya kurang istirahat akibat sering bangun malam untuk belajar,” kata cewek bertubuh kecil ini.

Yeni, panggilannya, mengaku mata ujian Bahasa Inggris lah yang paling sulit karena ada session soal yang mendengarkan (listening) melalui radio. Untuk SMK mata pelajaran yang diujikan hanya tiga, yakni, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika saja. Sebelumnya sudah mengikuti ujian praktek.  /nora juwita