Hasil UN Bukan Akhir Segalanya

Ujian Nasional (UN) bagi siswa SMA/sederajat sudah berlalu. Kini mereka tinggal menunggu hasilnya dengan harap-harap cemas, lulus atau tidak. UN memang sangat penting, karena sebagai salah satu syarat untuk dapat mendaftar di perguruan tinggi.

TETAPI, bagi siswa yang tidak lulus, jangan lantas patah arang karena sebenarnya hasil UN bukanlah akhir segala-galanya. Masih banyak cara lain yang ditempuh, misalnya dengan mengikuti ujian kesetaraan (paket C) atau dapat mengulang kembali pada tahun depan.

Jadi tidak ada alasan bagi siswa yang tidak lulus, untuk berhenti berusaha karena ukuran sukses tidak semata dari kelulusan UN saja. Paradigma semacam inilah yang harus diubah, karena sistem pendidikan yang sudah salah kaprah. Hanya menjadikan kecerdasan intelektual saja sebagai ukuran kelulusan.

Tentu saja, hal tersebut tidak sesuai dengan amanah dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 alinea ke-4 yang menyatakan, tujuan pendidikan secara kualitas adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Sedangkan tujuan pendidikan secara kuantitas adalah setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Kecerdasan yang dimaksud dalam Pembukaan UUD 1945 adalah kecerdasan manusia Indonesia seutuhnya, meliputi kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual.

Seperti yang dikatakan Direktur Homeschooling Primagama Prof Dr Ir Hazairin Samaulah MEng, bahwa pendidikan saat ini hanya mengembangkan kecerdasan intelektual. Peserta didik dinyatakan berhasil atau lulus suatu jenjang pendidikan, jika ia dapat menjawab soal-soal Ujian Nasional (UN).

Akibatnya sistem menjadi bobrok, mulai dari kepala dinas sampai anak didik menjadikan UN sebagai momok. “Mereka berlomba-lomba agar siswa menjadi lulus dengan jalan apa pun, karena pejabat takut dicopot, guru takut dimutasi, dan siswa menjadikan UN sebagai momok jika tingkat kelulusan tidak seratus persen,” kata dia.

Sebab itu, kata Hazairin, paradigma itu harus diubah total bahwa UN bukanlah satu-satunya jalan terbaik untuk mengukur tingkat keberhasilan siswa. Keberhasilan atau sebaliknya kegagalan pendidikan tidak dapat dibebankan hanya pada salah satu komponen saja. Misalnya kepala sekolah atau guru, artinya memperbaiki pendidikan tidak dapat dilakukan secara parsial (terkotak-kotak), tetapi harus menyeluruh.

Begitu juga siswa yang sudah berusaha semaksimal mungkin, kemudian tidak lulus maka jangan menjadikan UN segala-galanya atau tidak lulus UN maka dunia menjadi tamat. Dikatakan Hazairin, banyak cara atau jalan lain menuju ke Roma. Salah satunya dengan mengikuti ujian kesetaraan (paket C) yang juga diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan.

“Saya rasa, biasa saja kalau siswa tidak lulus ya mau diapakan lagi. Ini hal biasa saja dalam dunia pendidikan, bukan berarti mereka tidak lulus kemudian dunia menjadi kiamat. Toh, mereka masih diberi kesempatan untuk mengikuti ujian kesetaraan atau mengulang tahun depan,” kata dia.

Hal sama juga diungkapkan oleh Kepala Dinas Pendidikan Sumsel Ade Karyana, bahwa siswa yang tidak lulus dapat mengikuti ujian kesetaraan setelah UN berlangsung atau bisa juga mengulang belajar satu tahun untuk mengikuti UN tahun depan.

Dijelaskan Ade, banyak faktor siswa tidak lulus UN selain karena faktor tidak bisa menjawab pertanyaan soal dengan benar, bisa jadi karena kondisi kesehatan yang tidak fit saat UN dilaksanakan. “Jadi banyak faktor yang menyebabkan siswa tidak lulus ujian, bukan saja karena masalah tidak bisa menjawab soal dengan benar. Bahkan bisa jadi anak yang lumayan punya prestasi pun tidak lulus,” kata dia.

Sebab itulah, pelaksanaan UN yang cuma tiga hari dengan lima mata pelajaran ini banyak menimbulkan pro dan kontra di kalangan pengamat pendidikan dan orangtua siswa. Seperti yang diungkapkan, Dwi Maylinda (45), orang tua siswa, sistem UN tidak mewakili proses belajar siswa selama tiga tahun. “Saya saja khawatir, anak saya yang selalu ranking sepuluh besar dalam kelasnya di SMA Muhamadiyah bisa lulus. Karena UN sebagai satu-satunya indikator kelulusan siswa,” kata dia.

Dikatakan Dwi, proses belajar siswa selama tiga tahun di sekolah bisa berpengaruh terhadap kelulusan dengan adanya Ujian Akhir Sekolah (UAS). Dimana nilai UAS digabung dengan nilai UN dengan komposisi 40 persen dan 60 persen, menjadi nilai akhir kelulusan siswa. Namun sekarang sistemnya sudah berubah, kelulusan siswa ditentukan seratus persen dari hasil UN.

Meskipun kelulusan UN bukanlah segalanya, kata Dwi, tidak dipungkiri bahwa paradigma masyarakat saat ini memang menjadikan UN sebagai indikator keberhasilan siswa belajar selama tiga tahun. Dengan lulus UN, maka mereka bisa mendaftar di perguruan tinggi pada tahun itu juga. /nora juwita