Nyontek UN Pakai Ponsel

Palembang, BP

Hari ketiga Ujian Nasional (UN), Rabu (18/4), ada sejumlah siswa yang leluasa menggunakan telepon seluler alias ponsel untuk saling bertukar jawaban. Aksi mereka tidak diketahui pengawas lantaran ponsel dipasang pada model silent  atau vibrate (getar).

Hal ini terungkap saat BeritaPagi mewancarai sejumlah siswa usai ujian. Mereka mengaku saat mengikuti ujian mata pelajaran matematika, kemarin, saling bertukar jawaban dengan menggunakan ponsel.

“Kami kesulitan mengerjakan soal matematika, makanya kami menyelipkan ponsel, menggunakan pesan singkat atau blackberry massager (BBM). Ponsel kami pasang model silent (diam) atau vibrate (getar),” ujar seorang siswa  seraya diamini h beberapa temannya di salah satu sekolah di Palembang.

Meski sedikit gugup, mereka sangat leluasa karena aksinya luput dari pengawas. Penggunaan ponsel di dalam ruang kelas ini sebenarnya dilarang selama UN berlangsung.

“Walaupun sedikit deg-degan tapi kami cukup leluasa membuka ponsel untuk mencontek jawaban teman, kami saling bertukar dan syukurlah tidak ketahuan. Pengawas juga sepertinya tidak terlalu memperhatikan saku celana kami,” ujar siswa lainnya.

Absen
Sementara itu 186 siswa SMA/MA/SMK di Palembang terancam tidak lulus karena absen mengikuti UN. Mereka terdiri dari  81 siswa SMA, 5 Madrasah Aliyah dan 100 siswa SMK. Mereka diharapkan mendaftar ujian susulan yang akan digelar Senin (23/4) mendatang.

Kasi Pengembangan Kurikulum Bidang SMA/sederajat Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Palembang Nur Syamsu Alamsyah, mengatakan, pihaknya belum mengetahui alasan siswa tidak bisa mengikuti ujian nasional. “Apakah sudah drop out (DO), mutasi atau memang tidak bisa hadir kita tidak tahu,” katanya.

Sejauh ini baru dua sekolah yang melapor, yaitu dari SMA Nurul Iman dan SMA Bina Cipta dikarenakan siswanya hari ini sakit. Ujian susulan rencananya akan dipusatkan di SMA N 1.

Menurut Nur, jika peserta tidak bisa mengikuti ujian dengan alasan sakit, pihak sekolah hendaknya melampirkan surat keterangan dari dokter dan paling lambat ditunggu sampai hari Senin (23/4). Tercatat ada satu siswa SMA Bina Jaya yang sedang menjalani proses hukum di Lapas dan dua siswa SMK Pelayaran Sinar Bahari Palembang di Polsek Talang Kelapa.

“Mereka masih dalam proses jadi pelaksanaan UN akan tetap berlangsung dengan beberapa ketentuan. Soal ujian susulan akan diantarkan dengan pantauan pengawas dan kepolisian. Namun jika siswa tetap tidak bisa mengikuti sampai selesai ujian, siswa dianggap gugur,” ujar Nur Syamsu.

Tertukar Soal

Pada hari ketiga UN, kasus tertukar soal masih terjadi, namun tidak sampai mengganggu jalannya ujian. Ketua panitia Ujian Nasional (UN) Sumsel 2012 Bonny Syafrian, mengatakan, ditemukan naskah soal UN yang tertukar. Yakni, di luar boks soal mata pelajaran Matematika SMA Xaverius 1 Palembang tertulis dengan benar. Akan tetapi setelah dibuka berisi naskah soal bahasa Indonesia.

“Secara umum ujian berjalan sesuai Prosedur Operasional Standar (POS). Hanya saja, waktu hari pertama dengan mata pelajaran bahasa Indonesia, salah satu boks soal di SMAN 13 isinya tidak sesuai dan hari ini (kemarin-red) kembali terjadi, yakni di luar boks tertulis mata pelajaran Matematika. Namun saat di buka isinya berisi amplop dengan pelajaran bahasa Indonesia,” katanya.

Untuk itu, sebelum ujian dimulai, naskah soal matematika dari SMAN 13 Palembang yang selama ini disimpan di Dinas Pendidikan (Disdik) diserahkan ke SMA Xaverius 1 dan setelah dihitung jumlah amplop yang ada sebanyak 16 amplop sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan.

“Tentunya selama disimpan di Disdik tetap dijaga dan saat diserahkan ke sekolah dan diperiksa jumlah amplop sesuai. Sehingga disimpulkan boks soal bahasa Indonesia hari pertama di SMAN 13, tertukar dengan boks milik SMA Xaverius 1. Namun hal ini tidak sampai diketahui siswa, karena penyelenggaraan ujian tetap dimulai pukul 08.00,” imbuhnya.

Sementara itu, terkait isu bocoran yang beredar lewat pesan singkat di sejumlah ponsel siswa, Bonny mengatakan, hal tersebut sulit dibuktikan karena tidak bisa diyakini kebenarannya.

“Kami harapkan pihak sekolah bisa meredam tindakan negatif siswa setelah melaksanakan ujian nasional. Pengumuman juga tidak perlu disampaikan di sekolah, tetapi bisa dikirim ke rumah agar konsentrasi siswa tidak terfokus di satu tempat,” pungkasnya. /ris