Menopang Hidup Dari Bisnis Batu Cincin

Besarnya biaya untuk memenuhi kebutuhan keluarga, membuat seorang guru PNS berjualan batu cicin untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Berkat bisnisnya ini, ia pun mampu membesarkan empat orang anaknya.

Seorang lelaki paruh baya duduk di bawah pepohonan sembari menunggu batu cincin dagangannya. Lelaki penjaja batu cicin ini sudah sepuluh tahun melakukan aktivitasnya di emperan toko di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Palembang.

Rupanya, lelaki penjaja batu cicin ini bukan lelaki sembarangan. Ia adalah Khaidar Hp SPd yang ternyata juga seorang guru PNS sebuah SMA di Palembang.  Pendapatannya sebagai PNS dirasanya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.  Ia  pun mencari penghasilan tambahan dengan berdagang batu cincin.

        “Tak terasa sudah sekitar 10 tahun, saya berdagang batu cicin ini di Jalan Sudirman. Semata-mata untuk memenuhi kebutuhan keluarga, “ kata warga Jalan Gotong Royong, Lorong Mentas, Kelurahan Demang Lebar Daun, Kecamatan Ilir Barat I ini.

Saat menjajakan batu cicin, pria berkumis tebal ini selalu mengenakan topi dan jari-jemarinya dipenuhi cincin dengan batu perhiasan berukuran besar untuk memikat pembelinya.

Tanpa sungkan Khaidar bercerita awal mula dirinya terjun ke bisnis batu akik ini. Menurutnya, bisnis yang dilakoninya berawal dari hobinya membeli dan mengumpulkan batu cincin.  Tak terasa puluhan batu cincin memenuhi lemari pribadinya. Dan, saat bersamaan, ia pun harus memenuhi kebutuhan keluarga karena jika mengandalkan gaji sebagai guru PNS tidak cukup.

Khaidar sempat mencoba mencari tambahan penghasilan dengan menjadi tukang ojek. Namun, banyaknya aksi perampokan motor dan pembunuhan penarik ojek membuatnya berpikir dua kali untuk terus melakoninya.

Ketika sedang merenung memikirkan bagaimana mendapatkan tambahan penghasilan, mata Khaidar  tertuju pada tumpukan batu cincin yang telah lama dikumpulkannya. Seketika itu terbersit menjual kembali batu cincin itu. Terlebih menjual batu cicin lebih aman ketimbang menjadi tukang ojek. Dia pun mulai menggelar dagangannya di trotoar jalan.

“Asal halal, apa pun saya lakukan untuk keluarga. Ini merupakan tambahan penghasilan buat saya, sudah 10 tahun hingga sekarang saya senang melakoninya,” ujar Khaidar.

Sudah tentu Khaidar harus pintar mengatur waktu. Jika sedang tidak mengajar, Khaidar akan menggelar dagangannya dari pukul 07.00 hingga pukul 17.30. Namun, kalau mengajar, dia akan membuka lapak sejak pukul 14.00 hingga pukul 17.30.

“ Batu cincin yang kita jual merupakan hasil alam. Semua batu di sini berasal dari Baturaja, Bengkulu, dan daerah lainnya di Sumatera. Jenis batunya juga bervariasi ada batu Tapak Jalak, Kecubung Ulung, Firus, Kecubung Tanduk, Safir, Combong, dan lainnya,” ujarnya.

Menurut Khaidar, para pembeli yang datang biasanya mencari batu sesuai keinginannya. Jika pembeli seorang pedagang biasanya membeli batu untuk penglaris dagangan. Kalau petugas keamanan, biasa membeli batu yang berkhasiat untuk pengamanan diri.

Harga batu pun bervariasi. Rata-rata batu yang dijual Khaidar mulai dari Rp50 ribu hingga Rp1 juta bahkan ada yang mencapai Rp14 juta. Jenis batu yang mendominasi penjualan adalah jenis Tapak Jalak, Kecubung Ulung, Biru Langit, dan Giok.

“Setidaknya dalam sebulan, rata-rata bisa menghasilkan biaya tambahan sebesar Rp1,5 juta. Berdagang batu cincin itu tergantung minat dan hobi pembelinya. Jika mereka sudah sangat tertarik dengan batu yang dilihat, harga tidak lagi dihiraukannya,” imbuh Khaidar.

Diakui Khaidar penghasilan tambahan ini bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Kini dari empat anaknya, dua orang sudah berkerja, satu masih kuliah dan yang bungsu duduk di bangku kelas 2 SMP.

Khaidar pun mempunyai cita-cita untuk memajukan bisnis batunya ini. Terlebih lima tahun lagi ia akan pensiun. Khaidar bermaksud fokus melakoni bisnisnya dengan membuka toko batu cincin.

“Nanti saya akan fokus dan membuka toko besar kemudian  mencari batu bukan hanya di dalam negeri, tapi juga ke luar negeri. Seperti batu-batu berkelas dengan harga di atas Rp5 juta,” pungkasnya. /budiyansyah