UN Diwarnai Kekurangan Soal

Palembang, BP

Pelaksanaan hari pertama Ujian Nasional (UN) 2012, mata pelajaran bahasa Indonesia tingkat SMA/SMK/MA diwarnai kekurangan naskah soal dan lembar jawaban komputer (LJK), Senin (16/4). Akibatnya, peserta mengisi jawaban dalam LJUN fotokopian dan s harus dicatat dalam berita acara pengawas sekolah.

Koordinator pengawas UN Sumsel Zulkifli Dahlan, mengatakan, dari beberapa laporan pengawas satuan pendidikan, ada beberapa sekolah yang mengalami kekurangan naskah soal. Namun semua dapat diatasi sehingga ujian tetap berjalan dengan lancar.

“Berdasarkan laporan pengawas ada beberapa sekolah yang kekurangan soal. Seperti di SMA Muhammadiyah 2 Martapura, SMA Negeri 13 Palembang. Sehingga harus difotokopi dengan dampingi pengawas. Semua itu dilakukan sesuai prosedur operasional serta tetap masuk dalam berita acara yang akan dilaporkan ke pusat,” katanya.

Zulkifli  juga mengakui sebelum pelaksanaan UN sudah ada isu mengenai bocoran kunci jawaban melalui SMS.  Diharapkan siswa tidak percaya.

“Memang informasinya ada kunci jawaban melalui SMS, namun semua itu hanya jebakan dan kami juga sudah melaporkannya ke posko UN pusat. Terdapat 32 item yang diminta diawasi oleh pengaws. Jika memang ada indikasi kecurangan, pengawas dapat masuk ke ruangan ujian yang berkoordinasi dengan kepala sekolah,” ujar mantan Purek 1 Unsri ini.

Koordinator pengawas UN Kota Palembang bagian Seberang Ulu Imron Zahri, juga mengatakan, hari pertama UN terdapat beberapa kekurangan soal, sehingga harus di fotokopi. Selain itu juga terdapat beberapa sekolah kekurangan LJUN, sehingga harus meminta ke Disdikpora Palembang.

“Selain kurang soal juga terdapat kekurangan LJUN dan ada juga yang rusak karena terlipat dan karena siswa menghapus hasilnya, sehingga harus diganti,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Dikpora Palembang Riza Fahlevi mengatakan, kekurangan soal dan lembar jawaban terjadi di di SMA Negeri 13 Palembang dan SMA Pusri. Namun, semua itu bisa disiasati dengan sistem silang soal antara siswa yang satu dengan yang lain.

“Tugas Disdik provinsi dan kota kan hanya distribusi. Ya namanya percetakan pasti ada kekurangannya. Mengerjakannya tidak harus dari nomor satu, jadi bisa di-change. Hal ini tidak hanya terjadi di sini tapi di pusat juga,” tuturnya.

Ketua Sub Rayon 05 sekaligus Kepala SMAN 5 Palembang, Budiono Marihan membenarkan ada satu sekolah yang tergabung di sub rayonnya kekurangan LJK yakni SMA Pusri Palembang. Kekurangan diketahui setelah kepala sekolah menghubungi mereka sesaat sebelum ujian.

Kepala SMA Pusri Palembang, Ayu Siti Fatimah Sri Wahyuni menuturkan kekurangan tidak hanya pada LJK tapi juga soal. Mereka baru mengetahui kekurangan saat soal mulai dibagikan. Menurutnya kejadian ini sangat disayangkan karena sempat mengganggu konsentrasi peserta.

“Soal kurang 10 lembar dan LJK 10 lembar. Itu terjadi di ruang Kelas 7 untuk siswa IPS. Jadi mereka harus menunggu 10 menit sebelum bisa ikut menunggu difotokopi dulu,”ujarnya.

 

Tahanan Ikut UN

Unjian nasional  memang merupakan hak setiap siswa. Untuk itu Abdul Roni (19), siswa SMA Muhammadiyah  yang tersandung kasus hokum pun dapat mengikuti UN di sekolahnya dengan pengawalan petugas.

“Susah soal-soalnya karena belajar saya tidak intensif, namun mau bagaimana lagi ini sudah resiko yang harus saya jalani. Saya minder, beban, dan malu,”  ujarnya saat dijumpai di tahanan Polresta Palembang.

Abdul Roni berharap lulus UN. Namun jika gagal, ia pun pasrah. “Ada beberapa soal yang tidak saya isi, tapi saya masih berharap lulus,” kata Abdul Roni yang tersandung kasus penjambretan di Jalan Veteran, beberapa waktu lalu.

Berbeda dengan Abdul Roni, Faisal (17) siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Nurul Iman justru tidak mengikuti UN. Faisal kabur dari rumah setelah ketahuan tidak membayarkan uang SPP selama 4 bulan.

Sudah 14 hari ini  Faisal tak ada kabar beritanya. Diduga ia takut dimarah sang ayah karena telah menyelewengkan uang SPP. Menurut Hayata (42), ayah Faisal, warga Jl Singkil RT21/9, Kelurahan 9 Ilir Sekip, ia awalnya marah mendengar Faisal tidak membayarkan uang SPP. “Mungkin karena itulah Faisal tidak mau pulang ke rumah,” ujarnya.

Selama pelaksanaan UN sebanyak 398 personel Polresta Palembang disebar di sejumlah sekolah. Kapolresta Palembang Kombes Pol Sabaruddin Ginting melalui Kabag Ops Kompol Suwandi Prihantoro mengatakan, sejauh ini UN masih aman dan tetap dipantau hingga pelaksanaan UN selesai.

Penempatan personel polisi, kata Suwandi,  untuk memantau situasi pelaksanaan UN, bukan bersifat menakut-nakuti peserta ujian. “Kita juga menghargai konsentrasi peserta ujian, jangan sampai terpecah dengan dengan kedatangan petugas. Tugas polisi memantau situasi, jika ada kecurangan dalam pelaksanaan tentu ada laporan dan Unit Reskrim akan menindak dan datang ke lokasi,” tegasnya. /ris/ren/cr3