Ikuti Ujian Tanpa Seragam Sekolah

 Dengan alasan tak ada kordinasi, dua pelajar terlibat kriminalitas terpaksa mengikuti UN tanpa mengenaikan seragam.

Jika 5.149 siswa SMA, SMK, dan Madrasah Aliyah (MA) negeri dan swasta di Kabupaten Muaraenim, mengikuti Ujian Nasional (UN) mengenakan baju seragam dan berada di ruang kelas dengan penjagaan ekstra ketat pengawas.

Namun tidak demikian dengan Mario Pratama (18), warga Dusun I Desa Sumber Jaya, Kecamatan Talang Ubu dan Hengki Arnando (18), warga Kelurahan Talang Ubi Utara, Kecamatan Talang Ubi, Muaraenim.

Kedua  siswa kelas III IPA SMA PGRI Pendopo Talang Ubi ini terpaksa mengikuti UN di ruang rapat Lembaga Pemasyarakatan (LP) Muaraenim, Senin (16/4).

Yang menyedihkan lagi, keduanya mengikuti UN tanpa mengenakan seragam sekolah, melainkan hanya mengenakan baju bebas yang dipakainya dalam penjara tersebut.

“Kami mengetahui kalau hari ini UN setelah diberitahu orangtua. Namun karena pakaian seragam tak ada, makanya kami mengikuti UN pakai pakaian bebas saja,” ujar Mario dan diamini Hengki yang dijumpai di LP Muaraenim usai mengikuti UN.

Keduanya mengaku masuk penjara karena terlibat kasus pencurian sepeda motor karena diajak teman.

“Soal yang diujikan ada 32 soal, semuanya sulit. Kami tidak tahu apakah jawaban yang kami tulis benar atau salah, yang penting kami telah berusaha,” ucapnya.

Keduanya mengaku selama mengikuti ujian diawasi langsung dua orang guru dari SMA PGRI Pendopo bernama  Zainul dan Sarifudin.

Keduanya juga mengaku, gurunya tidak memberitahukan jadwal mata pelajaran yang akan diujikan pada hari kedua.

Selama dalam penjara, keduanya mengaku tetap belajar. Karena mereka membawa buku pelajaran sebagai persiapan ujian.

Kepala Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP) Muaraenim Jauhari sangat menyayangkan Dinas Pendidikan Nasional (Disdik) Muaraenim yang tidak melakukan kordinasi kepada LP sebelum pelaksanaan UN.

“Kami mengetahui kalau ada tahanan dan napi yang mengukuti UN baru tadi pagi, ketika dua orang pengawas datang hendak melaksanakan UN kepada kedua anak itu,” jelas Jauhari.

Menurutnya, jika sebelum pelaksanaan UN, pihak Disdik telah berkordinasi ke LP, tentunya, kedua anak tersebut telah dipersiapkan.

Setidaknya, menurut dia,  orangtua dua pelajar itu diminta untuk mengantarkan pakaian seragam sekolah.

“Karena tidak ada kordinasi sehingga mereka mengikuti UN tidak mengenakan seragam sekolah,” jelas Jauhari.

Dijelaskannya, keduanya terlibat kasus pasal 363 pencurian sepeda motor. Siswa yang bernama Mario Pratama divonis enam  bulan kurungan dan pada 24 April 2012 mendatang sudah bebas.

Sedangkan Hengki Arnando statusnya masih tahanan polisi yang dititipkan ke LP dan belum menjalani proses sidang. /nurul hudi