Sekolah Autis Butuh Perhatian Serius

Kualitas sekolah anak autis perlu menjadi perhatian serius. Metode terapi yang tepat, terapis yang berpengalaman dan sesuai bidangnya, hingga biaya yang cukup mahal untuk menjangkau sekolah autis juga membutuhkan perhatian serius.

TIDAK ada satu orangtua pun di dunia ini yang menginginkan buah hatinya terlahir sebagai anak yang memiliki gangguan perkembangan atau autis. Namun ketika Sang Pencipta benar-benar menghadiahi mereka seorang bocah mungil penderita autis, tidak ada sikap yang lebih baik selain menerima si kecil apa adanya.

Bagi mereka yang termasuk kalangan berpunya, tentu tidak masalah untuk mengeluarkan sedikit kocek guna menyembuhkan putra atau putri mereka yang mengidap autis. Namun, bagi orangtua dengan penghasilan pas-pasan dan golongan ekonomi lemah, mungkin hanya bisa berdoa demi kesembuhan anaknya.

Bukan rahasia lagi bila biaya yang harus dikeluarkan cukup membuat kantung menipis. Bagaimana tidak, untuk biaya pendidikan plus terapi satu bulan saja sudah jutaan rupiah yang harus dikeluarkan. Sayangnya, biaya mahal tersebut kadang tidak diimbangi dengan perkembangan yang memuaskan dari si bocah autis.

Masalah pendidikan untuk anak autis ini dikeluhkan oleh sejumlah orangtua pengidap autis di Kota Palembang. Mereka sangat mengharapkan adanya perhatian khusus dari pemerintah, terutama yang berkaitan dengan pendidikan bagi anak autis.

Seperti diungkapkan Revie  (33) yang anak sulungnya, Sonny (7), mengidap autis. “Saya minta pemerintah bisa menangani serius pendidikan anak autis, baik dari segi kualitasnya maupun biaya pendidikan untuk anak autis. Sebab sekolah untuk anak autis yang ada sekarang mahal, belum tentu bisa terjangkau untuk semua kalangan,” kata dia.

Apalagi, sambungnya, jumlah penderita autis makin banyak. “Buktinya, ketika saya reuni dengan teman-teman semasa sekolah dulu, ternyata ada sepuluh teman saya yang memiliki anak autis,” katanya kepada BeritaPagi, baru-baru ini.

Begitu pula yang diungkapkan Anna, yang anak keduanya, Rivan (11), juga mengidap autis. “Saya ingin pemerintah serius memikirkan pendidikan anak autis, terutama guru-gurunya harus benar-benar berkompeten di bidangnya masing-masing. Guru tidak dari sekolah umum, sehingga bisa menangani anak autis secara maksimal,” ucap Anna.

Kenyataannya, seperti diungkapkan pula oleh Nani, orangtua anak autis asal Muaraenim, banyak terapis yang tidak memiliki kemampuan yang dibutuhkan. Selain tidak dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk itu, mereka juga banyak yang tidak memiliki sikap sebagai terapis. “Terapis autis mestinya bekerja dengan hati. Ia harus siap dan tulus membantu anak autis yang belum bisa BAB sendiri misalnya,” kata Anna.

Di tempat anaknya menjalani terapi di Palembang, Nani juga melihat rata-rata terapis tidak dibekali pelatihan yang memadai selain banyak yang asal rekrut padahal bukan berlatar pendidikan ataupun berjiwa terapis. “Di sini juga terapisnya keluar masuk. Yang tadinya sudah bagus, tahu-tahu keluar juga. Entah selain tidak merasa cocok juga mungkin gajinya tidak sesuai,” kata Nani.

Nani seperti halnya Anna juga mengeluhkan biaya pendidikan anak autis yang bisa melebihi biaya sekolah anak normal paling bergengsi di Palembang. “Saya rasa tidak semua orangtua anak autis itu mampu, sebab itu pemerintah harus bisa memperhatikan hal ini karena anak autis juga bagian dari generasi penerus bangsa,” kata Anna.

Karenanya Anna dan Revie berpendapat perlu ada standar untuk lembaga penyelenggara terapi dan pendidikan autisme serta diberlakukan pengujian oleh lembaga yang kompeten apakah sebuah sekolah autis layak atau tidak dari segi fasilitas, sumberdaya manusianya, dan juga pengetahuan dan pemahamannya mengenai autisme. “Masak sekolah autis untuk melatih anak autis bisa gosok gigi saja tidak punya metodenya. Apalagi mengatasi traumatik, obsesif, dan hiperaktif yang kerap menjadi masalah pada umumnya anak autis,” kata Revie. /nora juwita