Sindikat Penjualan Wanita Dibongkar

Palembang, BP

Jajaran Polresta Bogor bekerjasama dengan Polsekta Sukarami berhasil membongkar sindikat penjualan wanita di Kota Palembang. Sebanyak 15 orang wanita asal Bogor yang menjadi korban perdagangan telah dikirim kembali ke keluarga mereka, Kamis (12/4).

Terbongkarnya sindikat ini berawal dari tertangkapnya tiga orang yang berperan sebagai penampung yakni Iwan di Bogor, serta Yuli dan Popo di Jakarta. Setelah dilakukan pengembangan, polisi mengetahui jika wanita-wanita itu dijual untuk dipekerjakan sebagai Pekerja Seks Komersil (PSK) di Wisma Rio, Komplek Teratai Putih, Kelurahan Sukarami, Kecamatan Sukarami, Palembang.

Selama 10 hari anggota Polresta Bogor melakukan penyelidikan di Kota Palembang. Setelah dipastikan keberadaan wanita-wanita itu, Polresta Bogor di back up Polsekta Sukarami langsung melakukan penggrebekan, Kamis (12/4), sekitar pukul 02.30.

Dari hasil penggrebekan tersebut, polisi mengamankan 15 orang wanita korban perdagangan yang kemudian digiring ke Polsekta Sukarami. Ke-15 orang tersebut yakni Caca, Tuti, Eka, Sarah Melati, Nia, Febrianti, Irma, Eva, Weni, Ani, Iren, Ika, Viratini, Ria, dan Irna.

Penjualan wanita-wanita ini setidaknya telah dilakukan sejak dua tahun lalu. Seperti yang diungkapkan oleh Nia (23), wanita yang menjadi korban perdagangan tersebut sejak dua tahun lalu.

Awal keberangkatannya ke Palembang setelah dibujuk rayu oleh Iwan untuk bekerja sebagai karyawati kafe. Ketika berada di Palembang, Nia yang saat ini sedang mengandung selama lima bulan malah dipekerjakan di Wisma Rio sebagai PSK.

Senanda diutarakan Caca (16), warga Ciapus, Bogor. Berbeda dengan Nia, Caca diajak oleh Deny, anaknya Iwan dengan tawaran bekerja sebagai pegawai kafe di Palembang.

“Saya ketemu dengan Deny di Tugu Kujang, Bogor. Neng sini neng, mau gak kerja di Palembang sebagai pegawai kafe. Enak kerja di kafe, bisa pulang setiap bulan,” ucap Caca menirukan ucapan Deny.

Sesampainya di Palembang, Caca malah dipaksa melayani laki-laki hidung belang. Setiap hari, Caca bisa melayani lima hingga sembilan orang laki-laki dengan tarif Rp150 ribu per orang. Dari uang yang dibayarkan konsumen tersebut, Caca hanya mendapatkan bagian Rp50 ribu per orang.

Menurut Caca, orang tuanya tidak mengetahui jika dirinya bekerja sebagai PSK. Caca malah mengaku kepada ibunya kerja di salon yang ada di Bandung.

“Saya sudah delapan bulan kerja di Palembang. Jika mama tau, saya  sudah delapan bulan bekerja di Palembang sebagai PSK. Mau kabur tidak bisa, karena ada empat CCTV di wisma itu,” ucapnya.

Sementara Tuti Kartika Sari (21), mengatakan, awalnya dia juga ditawari untuk bekerja di kafe sebagai kasir. Tetapi kenyataannya, Tuti disuruh melayani laki-laki hidung belang.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, anggota Polresta Bogor berjumlah 10 orang telah melakukan penyelidikan sejak 10 hari terakhir. Tim pengejaran ini dipimpin oleh

Kasatreskrim Polresta Bogor AKP Iman Imanudin dan Kanit Buser Polresta Bogor Ipda Mido manik.

“Kita berhasil membongkar sindikat ini setelah ditangkapnya tiga orang penyalur di Jakarta dan Bogor beberapa waktu lalu. Saat ini kita masih memburu Ujang yang belum diketahui keberadannya,” ucap salah satu anggota Polresta Bogor yang tidak mau menyebutkan namanya.

Terungkapnya sindikat ini berangkat dari adanya laporan orangtua korban yang menyatakan anaknya hilang. Adapun orang yang dilaporkan tersebut ialah Iwan dan Iyus. /wan